Wahai Orang Tua, Jangan Sepelekan Kesehatan Mental Anak

Jangan sepelekan kesehatan mental anak. Dari total 450 juta orang dengan gangguan kesehatan mental, dua puluh persennya terjadi pada anak-anak (O’Reiley: 2015). Bahkan satu dari lima anak di Amerika Serikat memiliki gangguan semacam itu. Fakta tersebut cukup membikin ngilu, terutama bagi para orang tua baru. Gangguan yang biasanya dialami orang dewasa, ternyata juga dapat terjadi pada usia dini.

Orang tua berperan penting bagi perkembangan emosional anak. Buruknya pola asuh dapat menyebabkan kesehatan mental anak terganggu. Hingga memunculkan sifat-sifat buruk dalam dirinya. Meski tidak selalu terbawa hingga dewasa, tetapi orang tua wajib memahami kecenderungan perilaku buah hatinya.

Gangguan Kesehatan Mental Anak

Istilah gangguan kesehatan mental anak mengarah pada segala jenis gangguan mental yang berawal di masa kanak-kanak. Ini berpengaruh besar terhadap pola perilaku, kemampuan belajar, hingga cara mereka mengontrol emosi. Berikut beberapa contoh gangguan perilaku dan kesehatan mental pada anak.

Depresi

(dok: nypost.com)

Depresi umumnya ditandai dengan perasaan sedih, mudah tersinggung, dan putus asa. Mungkin itu hal lumrah, tetapi tidak jika frekuensinya terlalu sering. Semakin sering sedih, tersinggung, dan putus asa, perilaku anak perlahan juga akan berubah.

Awalnya mungkin sederhana, anak tak lagi senang melakukan hal-hal favorit mereka. Tapi jika terus dibiarkan, lama-lama pola makan dan tidur juga ikut berubah. Kemudian mereka bisa saja kehilangan semangat dan cepat kehabisan energi atau mudah lelah. Juga sulit berkonsentrasi dan memusatkan perhatian.

Ketika makin parah, rasa bersalah, tidak beharga, serta tidak berguna akan makin sering muncul. Sehingga pada akhirnya menimbulkan perilaku menyakiti atau merusak diri sendiri (self harm & self destruction).

Kecemasan Berlebih (Anxiety)

(dok: wtop.com)

Beberapa anak diam karena sedang ingin. Tapi ada pula anak pendiam karena takut mengutarakan isi hati mereka. Itu baru awal gejala gangguan kecemasan berlebihan. Selanjutnya jika tetap tidak mampu bersuara, bisa saja mereka menjadi mudah tersinggung dan marah. Lalu itu membuat mereka susah tidur pada malam hari, mudah lelah, hingga sering sakit kepala dan perut.

Biasanya perilaku anak akan membaik seiring bertambahnya usia. Sayangnya, sebagian dari mereka tetap mengalami kesulitan yang sama hingga dewasa. Rasa takut dan cemas berlebihan membuat aktivitas harian mereka terganggu, bahkan melumpuhkan semangatnya. Terdengar menakutkan? Tapi Anda tak perlu ikut cemas berlebihan. Pasalnya itu hanya kemungkinan terburuknya.

Gejala anxiety paling umum terjadi pada anak-anak, misalnya takut ketika terpisah dari orang tua, berada di keramaian, atau fobia terhadap hal-hal khusus, seperti hewan, bunyi mesin, pergi ke dokter, dan sebagainya. Jika anak mudah panik dan berdebar-debar, bahkan kesulitan bernapas, bisa jadi kecemasan mereka cukup parah sehingga membutuhkan tindakan segera.

Mengatasi Gejala Depresi dan Anxiety

(dok: goop.com)

Tidak ada penyebab pasti, banyak faktor penyebab anak depresi atau anxiety. Bisa saja karena faktor biologis bawaan mereka sendiri. Tapi bisa juga karena stres atau trauma akibat penganiayaan, intimidasi, atau perundungan (bullying), baik secara fisik maupun emosional. Dan itupun justru bisa berawal dari lingkungan keluarga sendiri.

Untuk mengatasi gejala depresi dan anxiety, sebaiknya ajarkan gaya hidup sehat sejak dini. Buatlah jadwal makan dengan mengutamakan konsumsi buah dan sayur, biji-bijian, serta makanan sehat alami lainnya. Usahakan selalu melibatkan anak dalam kegiatan fisik, setidaknya satu jam setiap hari. Bisa dengan membiarkannya bermain di luar rumah, mengajak olahraga, atau melakukan pekerjaan rumah, misalnya mencuci piring, menyapu, merapikan kamar, dan sebagainya.

Pastikan pula anak mendapatkan porsi tidur yang pas sekaligus berkualitas. Bila perlu, ajarkan teknik relaksasi serta konsentrasi kepada mereka. Dan di atas itu semua, orang tua harus bisa memastikan komunikasi di rumah terjalin dengan baik. Hindari memarahi anak berlebihan, apalagi selalu melarang mereka melakukan hal baru. Bijaklah dalam memilih kata-kata, serta perbuatan yang tepat disampaikan kepada anak. Karena buah jatuh tak jauh dari pohonnya.  

Contoh Gangguan Perilaku pada Anak

Depresi dan kecemasan berlebih merupakan kondisi umum yang menyebabkan berbagai perubahan perilaku. Sementara itu, gangguan perilaku (behavioral disorder) pada anak secara spesifik juga dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain:

1. ADHD (Attention Deficit/Hyperactive Disorder)

(dok: inquirer.com)

Anak dengan ADHD biasanya akan susah berkonsentrasi atau memusatkan perhatian, kesulitan mengendalikan tindakan atau gerakan impulsif, serta terlalu aktif. Gejala-gejala ini tampaknya umum terjadi pada semua anak, tetapi jika frekuensinya tinggi, itu berarti berita buruk.

Selain itu, ada sejumlah gejala lain yang sering dihubungkan dengan ADHD. Misalnya terlalu sering melamun, sering kehilangan barang, pelupa, gelisah, bicara berlebihan, ceroboh, sulit menekan kemauan, sulit dalam pergaulan sehingga jarang memiliki teman.

2. PTSD (Post Traumatic/Stress Disorder)

(dok: parents-together.org)

Peristiwa traumatik, semacam kecelakaan hebat, kematian orang terdekat, kekerasan fisik, seksual, dan emosional, hingga bencana alam hampir pasti menimbulkan trauma. Stres pascatrauma kerap terjadi pada anak-anak. Pasalnya mereka belum memiliki keteguhan emosional dan intelektual guna merespon positif peristiwa traumatis.

PTSD baru bisa didiagnosis apabila anak mengalami gejala-gejala dalam periode cukup lama, sedikitnya lebih dari satu bulan. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari perubahan mood mendadak (umumnya menjadi marah atau sedih), mimpi buruk, sulit tidur atau mudah terjaga.

3. OCD (Obsessive Compulsive Disorder)

(dok: usnews.com)

Obsesi, keinginan berlebihan dan tak terkendali terhadap sesuatu. Kompulsif, terjadi berkali-kali tanpa memedulikan situasi. OCD, obsessive-compulsive disorders adalah kombinasi keduanya. Seorang anak merasa harus melakukan sesuatu meski tak masuk akal, karena pikirannya memerintahkan hal itu.

Contoh perilaku obsesif kompulsif, seperti anak mematuhi secara tuntas aturan yang dia buat sendiri. Misalnya dia menata mainan di rak menurut ukurannya, yang terbesar di belakang, yang kecil berada di depan. Dengan hati-hati dia menatanya, dan itu pasti selalu dia lakukan setiap selesai bermain. Sekali saja dia meninggalkan kebiasaan itu, akan muncul kecemasan dalam dirinya sampai dia berhasil menata kembali.  

4. ODD (Oppotional Defiant Disorder)

(dok: raisingchildren.net)

Tergolong disruptif, ODD merupakan kecenderungan perilaku melawan orang-orang di sekitar. Anak dengan Oppotional Defiant Disorder umumnya gemar menyalahkan orang lain, justru ketika jelas-jelas dia sendiri yang salah. Mereka mudah kehilangan kontrol atas emosi, cepat marah, bahkan tantrum.

Anak ODD juga sering terlibat perdebatan dengan orang-orang terdekat, misalnya membantah perkataan orang tua, menolak perintah, tidak patuh aturan, dan sebagainya. Tentu saja ini dapat memicu gangguan dalam pergaulan sosialnya.

5. CD (Conduct Disorder)

(dok: lifecounselingorlando.com)

Conduct Disorder juga termasuk perilaku disruptif. Adalah perilaku menentang yang cenderung lebih kasar, agresif, sekaligus berpotensi membahayakan. Contohnya seperti merundung dengan kekerasan, gemar berkelahi, melakukan tindakan vandal, bahkan kriminal tingkat rendah.

Perilaku ini dapat diidentifikasi pada seorang anak yang bertindak agresif secara terus menerus pada orang lain. Atau ketika dia sering terlibat dalam pelanggaran peraturan, baik di rumah, sekolah, maupun aturan tak tertulis dalam pergaulan.  

Penutup

Kesehatan mental anak berkaitan erat dengan perkembangan dan pencapaian emosional mereka. Bagaimana si buah hati mempelajari pergaulan yang sehat, serta cara dirinya menghadapi suatu masalah. Tanpa kemampuan itu, dia akan kesulitan menjadi pribadi yang positif. Lebih jauh lagi, malah bisa mematikan peran dirinya sebagai individu, baik di rumah, sekolah, maupun dalam pergaulan.

(Dirangkum dari CDC Health: https://www.cdc.gov/childrensmentalhealth/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest