Fenomena Ujaran Kebencian dari Sudut Pandang Psikologi

Fenomena ujaran kebencian bukan lagi menjadi hal yang ganjil. Setiap hari, ada saja tulisan komentar bernada negatif, baik pelecehan, perundungan, maupun penghinaan, ditemukan di media sosial. Bahkan tak jarang menjadi kasus hukum yang berakhir dengan vonis pengadilan. 

Pemerintah melalui Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) pada pasal 28 ayat 2, telah mengatur batasan-batasan dalam menyebarkan informasi, yaitu:

“Setiap orang yang sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).”

Ancaman bagi penyebar informasi mengandung kebencian dan permusuhan pun telah dijelaskan dalam UU No. 19 Tahun 2016 tentang ITE, yakni berupa hukuman pidana penjara maksimal selama enam tahun dan atau denda maksimal Rp1 miliar. 

Aturan tersebut sempat membikin beberapa kali kehebohan yang menyeret nama-nama tokoh populer. Sebut saja Ahmad Dhani yang terpaksa mendekam selama 1,5 tahun di Lapas Cipinang akibat dianggap menyebarkan hasutan dan ujaran kebencian kepada golongan pendukung Cagub DKI Jakarta pada Pilkada 2017 lalu. 

Atau kasus yang masih hangat, yaitu unggahan Jerinx SID di instagram yang kemudian dipermasalahkan oleh Ikatan Dokter Indonesia dan dianggap sebagai ujaran kebencian sekaligus pencemaran nama baik. Itu membuatnya mendapatkan vonis 14 bulan penjara dan denda Rp10 juta. 

Anda mungkin juga masih ingat dengan sosok Prita Mulyasari yang terkenal karena jeratan UU ITE yang menimpanya, akibat dinilai telah mencemarkan nama baik RS Omni Internasional Tangerang. Itu terjadi setelah kiriman surat elektronik yang berisi ketidakpuasannya pada layanan rumah sakit tersebar luas di internet.

Selain tiga kasus menghebohkan tersebut, masih banyak lagi deretan kasus lain yang berkaitan dengna ujaran kebencian. Harusnya itu sudah membuat kita lebih berhati-hati dalam menggunakan jejaring sosial sebagai sarana mengutarakan pendapat. Semua orang perlu membentengi diri agar tak sampai berperilaku negatif dalam bentuk apa pun, khususnya soal ujaran kebencian. 

Ujaran Kebencian dari Sudut Pandang Psikologi

Ilustrasi: ujaran kebencian
Ilustrasi: ujaran kebencian

Newton Lee adalah seorang ilmuwan komputer kelahiran Hong Kong. Dirinya berteori mengenai perbedaan antara kebebasan berbicara dan ujaran kebencian. Menurutnya, kebebasan berbicara akan memicu perdebatan, sementara ujaran kebencian dapat menyulut kekerasan atau kekejaman. Ungkapan itu hampir senada dengan paparan Majid Yar, seperti dikutip oleh Nuri Sadida dan Thessa Aulin Pratiwi dalam Jurnal Psikologi Sosial Universitas Indonesia vol. 18 tahun 2020. 

“Ujaran kebencian adalah segala bentuk ungkapan yang digunakan untuk memosisikan orang lain secara negatif berdasarkan karakteristik tertentu, misalnya ras, etnis, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, disabilitas fisik dan mental yang dapat menimbulkan kebencian dan memancing kekerasan.” (Yar, 2013)

Menurut Nathan Hall (2013), perilaku ujaran kebencian dilakukan seseorang sebagai salah satu cara untuk mengekspresikan prasangka. Prasangka pada dasarnya merupakan sebuah anggapan atau pendapat yang muncul sebagai respon spontan atas sesuatu yang belum dikenal. Bisa juga berarti sebuah perasaan menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap sesuatu hal, baik fenomena, benda, maupun seseorang, yang tidak didasarkan pada pengalaman aktual.

Dalam perkembangannya, prasangka kini lebih banyak diartikan negatif. Bahkan KBBI mengartikannya sebagai pendapat atau anggapan kurang baik terhadap sesuatu sebelum mengetahui sendiri. Prasangka dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan prejudice, yang berarti cedera atau kerusakan akibat penilaian atau seseorang yang mengabaikan hak-hak orang lain. 

Munculnya prasangka dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor. Umumnya merupakan hasil dari kategorisasi sosial dan khayalan tentang superioritas-inferioritas yang dipengaruhi oleh kesalahan berpikir akibat pola asuh, pendidikan, lingkungan, atau pengalaman yang kurang mendukung. 

Kategorisasi sosial adalah pengelompokan masyarakat dalam berbagai karakteristik tertentu, seperti gender, ras, etnis, agama, ideologi, dan sebagainya. Pada dasarnya perbedaan-perbedaan ini tidak terhindarkan. Namun akibat kesalahan logika, seseorang dapat memandang anggota kelompok tertentu secara general. Dengan kata lain, anggota kelompok A pasti akan berperilaku A, kelompok B pasti punya ciri khas B, dan semacamnya, padahal belum tentu seperti itu. 

Terdapat tiga macam prasangka yang umum terjadi, seperti dirumuskan oleh profesor sosiologi, John E. Farley, yaitu prasangka kognitif, afektif, dan konatif. Prasangka kognitif adalah tahap pertama, di mana individu memiliki persepsi tentang suatu hal yang dianggapnya bernilai benar. Lalu prasangka afektif yang memicu dirinya untuk memutuskan apakah sesuatu itu sesuai seleranya atau tidak (suka atau tidak suka). Hingga prasangka konatif yang sudah sampai pada tahap kecenderungan sikap, tindakan, atau perilaku individu dalam merespon hal tersebut. 

Di ranah keilmuan, prasangka dikaji secara tersendiri dalam psikologi sosial. Psikologi sosial sendiri adalah kajian keilmuan yang berusaha memahami keadaan dan penyebab terjadinya perilaku individu dalam kehidupan sosial (Baron & Byrne, 2004). Psikologi sosial juga memunculkan pembahasan tentang hubungan antara prasangka dan perilaku agresif. 

Kita telah menyaksikan berbagai peristiwa tragis yang diakibatkan oleh perilaku agresif, khususnya antarkelompok. Prasangka negatif dari satu kelompok merupakan salah satu penyebab munculnya tindakan agresi terhadap golongan masyarakat tertentu. Bahkan prasangka menjadi penyebab utama, mengapa kelompok agresif cenderung membenarkan tindakannya kepada golongan lain, meskipun perilaku tersebut tidak dapat dibenarkan secara moral kemanusiaan (Krahe, 2005). Maka, pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa ujaran kebencian terjadi karena prasangka negatif yang tidak terkendali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest