Tren Cancel Culture di Media Sosial, Bagaimana Dampaknya?

Cancel culture adalah aksi mencabut dukungan terhadap suatu tokoh karena perbuatan atau ucapan yang tidak menyenangkan. Aksi boikot ini biasanya dilakukan kepada selebritas atau figur publik di media sosial.

Saat public figure mengeluarkan ucapan atau perilaku yang tidak dapat diterima masyarakat, maka netizen akan berbondong-bondong mencekalnya. Tapi tidak menutup kemungkinan jika orang biasa pun bisa mengalami cancel culture, termasuk Anda. Meskipun dengan skala yang lebih kecil. 

Mungkin saat ini Anda merasa bisa menahan diri dan memposting hal yang baik. Tapi bagaimana dengan postingan Anda beberapa tahun silam? Pasalnya, ada saja orang yang rela menggali jejak digital seseorang, lalu menggunakannya sebagai ‘senjata’ untuk melakukan aksi boikot. 

Ada beberapa penyebab mengapa seseorang melakukan cancel culture yaitu:

  1. Untuk mengidentifikasi dan menilai perbuatan yang dilakukan
  2. Agar pelaku yang dicekal merasakan emosi negatif
  3. Untuk menyakiti dan menghukum pihak yang diboikot

Cancel culture berawal saat seseorang melakukan tindakan tidak menyenangkan, kemudian ada kelompok yang menganggapnya sebagai pelanggaran, baik terhadap norma sosial, politik, maupun jenis kesepakatan lainnya.

Efek Cancel Culture

Cancel culture berguna untuk melawan berbagai masalah sosial, seperti pelecehan terhadap suku, agama, ras, atau ketidaksetaraan gender. 

Suatu kelompok yang bersatu dapat menciptakan pembaruan dan perubahan sosial. Hal itu membuat seseorang menjadi lebih berhati-hati sebelum memposting sesuatu yang memiliki kemungkinan menyinggung suatu pihak.

Kalau itu adalah dampak positif, ada pula dampak negatif dari cancel culture. Cancel culture bisa berubah menjadi bullying, ancaman, bahkan teror. Pihak yang diboikot akan merasa depresi, dikucilkan, dan mendapat pandangan sosial yang buruk.

Cara Detoks Media Sosial Untuk Kesehatan Mental
Ilustrasi: media sosial

Para pemboikot umumnya tidak memberi ruang untuk berdiskusi, tujuannya agar pelaku mengerti bahwa perilakunya telah menyinggung mereka. Selain itu, kadang kala pelaku juga tidak diberi kesempatan untuk meminta maaf atau memperbaiki kesalahan.

Sebagai pengguna sosial media, Anda bebas menentukan apakah postingan seseorang wajar atau berpotensi menyinggung. Anda juga harus berpikir kepada siapa dan untuk apa Anda memberikan dukungan untuk memboikot.

Melakukan cancel culture sering kali tidak membuat seseorang berubah. Adakalanya justru akan membuat mereka semakin terpojok, sehingga secara naluriah akan berusaha mempertahankan ego dan pemikiran mereka.

Tren Pengguna Media Sosial

Cancel culture dapat digunakan untuk membela dan melawan orang-orang yang melanggar etika dan menyinggung suatu kelompok. Namun di lain sisi dapat menimbulkan cyber bullying untuk menjatuhkan suatu pihak. Akibatnya bisa mengganggu kesehatan mental seseorang. Jadi, pikirkan sebelum bertindak agar tidak ada pihak yang terkena dampak negatif cancel culture.

Selain cancel culture, ada pula istilah woke culture dan call-out culture. Woke culture yaitu kelompok aktivis atau orang yang peduli dengan masalah sosial. Media sosial digunakan untuk mengutarakan pendapat mereka. 

Sedangkan call-out culture adalah saat seseorang mengutarakan kekesalan dan kegundahannya di media sosial atas hal tidak menyenangkan yang dialami. Misalnya saat listrik mati terlalu lama atau internet yang digunakan lambat. Kemudian pelaku call-out culture akan mengadu di media sosial.

Anda harus bisa mengatur dan membatasi waktu dalam bermain media sosial. Hal itu karena penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memengaruhi kesehatan mental. Jika Anda sudah merasa media sosial mengganggu pikiran dan kehidupan, mungkin saatnya melakukan detoks. Namun jika Anda merasa kesulitan untuk meninggalkannya, sebaiknya pergi ke psikolog atau psikiater, agar masalah kesehatan mental tidak semakin parah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest