Toxic Positivity, Kata Positif yang Justru Bikin Mental Down

Tagar ‘toxic positivity’ sedang ramai dibicarakan oleh publik twitter. Hal ini karena banyak komentar masyarakat yang memaksa untuk berpikir positif tanpa berempati pada masalah yang dihadapi orang lain.

Banyak yang beranggapan bahwa berpikir positif menjadikan seseorang senantiasa senang dan semua masalah hilang. Anggapan itu benar jika dilakukan disaat yang tepat. Pada saat tertentu, berpikir positif bisa menjadi ‘racun’ yang seolah-olah membuat seseorang lari dari permasalahan yang dihadapi.

Apa itu toxic positivity ?

toxic positivity memiliki konsep bahwa seseorang hanya berfokus pada hal – hal positif dan menolak apapun yang memicu emosi negatif, dikutip dari Psychology Today. Menghindari emosi negatif justru membuat masalah menjadi lebih besar. Hal tersebut secara tidak langsung membuat anda merasa tidak perlu memperdulikan masalah yang ada, tulis laman tersebut. Bahkan psikolog Mary Hoang mengatakan bahwa kata – kata penyemangat yang dianggap positif sering membuat seseorang menjadi lebih buruk, dikutip dari laman Elle Australia.

Contohnya perkataan seperti “Harusnya kamu bersyukur, banyak yang masalahnya lebih besar dari kamu” ternyata tidak sepenuhnya membantu orang yang sedang mengalami masalah. Jika seseorang menghindari emosi negatif, maka bisa membuat emosi tersebut menjadi lebih besar. Perlu diketahui bahwa manusia tidak bisa memprogram dirinya sendiri untuk selalu bahagia dan mengesampingkan perasaan sedih.

Emosi negatif berguna untuk lebih waspada terhadap lingkungan sekitar. Menghindari emosi negatif membuat seseorang akan kehilangan kesempatan belajar mengontrol emosi. Menerima emosi negatif membantu anda untuk mengatasi atau mengontrol masalah yang dihadapi.

Emosi merupakan informasi yang memberikan gambaran tentang apa yang terjadi, tetapi tidak memberi tahu apa respon yang harus dilakukan. Contohnya jika saat ini anda berada di hutan lalu melihat seekor harimau, maka anda tidak harus melewati jalan itu. Berarti anda melihat harimau sebagai ancaman potensial. Itulah cara emosi bekerja.

Jika seseorang telah mengidentifikasi emosi seperti yang disebutkan diatas, maka ia akan memutuskan menghadapi atau menghindari ketakutannya.

Perlu anda ketahui toxic positivity merupakan respon alami seseorang terhadap orang lain yang mengalami masalah. Hal itu karena mereka merasa tidak nyaman saat berhadapan dengan penderitaan orang lain.

Apa yang harus dilakukan ?

Jika anda berhadapan dengan orang yang memiliki masalah, anda tidak perlu menambah bebannya dengan membandingkan dengan pengalaman pribadi atau orang lain. Tanggapan yang lebih bermanfaat adalah dengan mendengarkan dan memahami. Selain itu juga membiarkan orang yang memiliki masalah itu tahu bahwa tidak apa – apa untuk merasakan apapun yang ia rasakan. Yang perlu diketahui bahwa seseorang perlu merasakan beragam emosi termasuk marah, sakit, dan kecewa.

Dikutip dari journal.sociolla.com, validasi ialah perilaku untuk memberi tahu seseorang bahwa yang ia rasakan nyata adanya dan bisa dipahami. Bukan berarti menyetujui perasaan itu, tetapi lebih cenderung empati dan memahami bahwa anda paham kenapa seseorang bisa merasakan atau mengalami hal itu.

Saat perasaan itu tervalidasi, anda akan merasa dipahami dan didukung untuk lebih menerima perasaan tersebut. Sebaliknya jika tidak tervalidasi, anda akan merasa tidak dipahami dan sulit untuk menerima perasaan itu. Contohnya jika anda sedang kesal kepada dosen killer, tetapi memaksakan diri untuk bersikap positif, akhirnya anda akan memendam perasaan kesal itu.

Lebih jauh lagi, jika toxic positivity dihadapkan pada orang yang kondisi mentalnya kurang stabil dapat membuatnya frustasi, merasa tidak aman mengekspresikan emosi negatif, dan membahayakan mentalnya.

Seseorang perlu ruang untuk curhat dan mengalirkan perasaan yang dialami dari masalah yang dihadapi, baru setelah itu diberikan kata – kata positif. Prinsipnya adalah berikan ruang curhat sebelum memberi nasehat.

Sumber:
www.cnnindonesia.com : Toxic Positivity: Ucapan Semangat yang Mengandung ‘Racun’
www.kompas.com : Ramai Soal Toxic Positivity, Saat Ucapan Semangat Justru Jadi “Racun”
journal.sociolla.com : Terlalu Bersikap Positif Dapat Berdampak Negatif, Lho! Yuk, Kenali Apa Itu Toxic Positivity!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest