Hari Ibu Internasional, Pahami Sindrom Baby Blues dan Depresi Pasca Melahirkan

Hari ibu internasional diperingati setiap hari Minggu kedua pada bulan Mei. Tahun ini, hari istimewa tersebut jatuh pada tanggal 10 Mei 2020. Untuk memperingatinya, mari kita kembali memahami apa itu sindrom baby blues dan postpartum depression (depresi pasca melahirkan). Kita perlu setidaknya mengenali tanda-tandanya agar dapat memberikan bantuan kepada para ibu yang tengah mengalami masalah ini.

Terlepas dari bagaimana bahagianya memiliki bayi, merawat dan membesarkannya juga bukanlan perkara mudah. Kurangnya tidur, besarnya tanggung jawab baru yang harus diemban, serta kurangnya waktu untuk diri sendiri dapat dengan mudah membuat ibu baru manapun merasa kelelahan dan stress. Bahkan, depresi ringan dan perubahan suasana hati secara tiba-tiba merupakan hal yang umum terjadi pada para ibu baru. Kondisi ini disebut dengan baby blues.

Sebagian besar wanita mengalami setidaknya beberapa gejala baby blues segera setelah melahirkan, seperti lebih mudah menangis, merasa kewalahan, dan rapuh secara emosional. Hal ini disebabkan karena perubahan hormon secara tiba-tiba pasca melahirkan dan disertai stres, kurang tidur, serta kelelahan. Umumnya baby blues terjadi dalam beberapa hari setelah persalinan, mencapai puncaknya dalam satu minggu, dan berkurang dengan sendirinya dalam minggu kedua pasca melahirkan.

Meski demikian, jika gejala baby blues tidak kunjung reda setelah beberapa minggu, bisa jadi Anda mengalami postpartum depression atau depresi pasca melahirkan. Ini merupakan kondisi yang lebih serius dan tidak boleh dibiarkan karena berisiko membahayakan orang tua maupun anak.

Depresi pasca melahirkan memiliki gejala yang sama dengan baby blues, seperti perubahan suasana hati secara tiba-tiba, sering menangis, sedih, insomnia, serta mudah marah. Tapi pada depresi pasca melahirkan, gejala tersebut lebih parah, seperti disertai dengan keinginan untuk bunuh diri atau ketidakmampuan merawat bayi yang baru lahir, serta gejala berlangsung lebih lama.

Ada beberapa hal yang bisa menjadi pertanda bahwa Anda kemungkinan tengan mengalami postpartum depression atau depresi pasca melahirkan, antara lain:

  • Menarik diri dari pasangan dan kesulitan membangun ikatan dengan bayi
  • Kecemasangan yang tidak dapat dikendalikan hingga susah tidur ataupun makan, bahkan ketika bayi bisa tidur lelap
  • Merasa bersalah atau tidak berharga, atau mulai muncul pikiran yang berkaitan dengan kematian atau bahkan mengharapkan kematian.

Tidak ada satu alasan tunggal mengapa seseorang bisa mengembangkan depresi pasca melahirkan. Namun sejumlah penyebab dan faktor risiko dipercaya berkontribusi terhadap masalah ini, antara lain:

  • Perubahan hormon secara tiba-tiba
  • Perubahan fisik dan emosional
  • Stres

Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala seperti yang disebutkan di atas, maka segeralah mencari bantuan seorang tenaga medis. Jangan meremehkan kondisi ini karena justru dapat membahayakan baik si ibu maupun bayi. Pastikan ibu yang mengalami baby blues atau depresi pasca melahirkan selalu mendapatkan dukungan dan bantuan penuh dari orang-orang di sekitarnya untuk membantu ibu mengatasi masalah tersebut.

Sumber: https://www.helpguide.org/articles/depression/postpartum-depression-and-the-baby-blues.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest