Stop Sebar Foto Korban Bom! Bisa Pengaruhi Psikologi

Media sosial dihebohkan dengan tragedi bom di Polresta Medan ,Sumatera Utara  pada Rabu (13/11/2019). Banyak netizen yang menyebarkan foto tentang kejadian itu, bahkan foto pelaku sekaligus korban yang terlihat mengenaskan.

Banyak himbauan untuk tidak menyebarkan konten mengerikan tersebut. Kengerian yang timbul dianggap menjadi teror baru bagi masyarakat.

“Menyebarkan konten itu akan membuat teroris bangga, maka jangan disebarkan,” kata Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika, Noor Iza dikutip dari kompas.com.

Ada beberapa alasan mengapa orang suka menyebarkan foto yang tidak layak untuk dilihat.

“Motivasinya ada yang positif dan negatif, yang positif mungkin ingin memberi tahu ada sebuah tragedi.  Dengan menyebarkannya ia ngin kita menjadi aware. Mungkin juga supaya kita juga mendoakan. Ada daya empati dari kejadian itu, kita diingatkan untuk mawas diri,” Kata Psikolog Ratih Andjani Ibrahim, M.Psi dikutip dari kompas.com.

“Motivasi negatifnya, gambar itu disebarkan untuk memberikan teror,” lanjut Ratih.

Ada juga yang menyebarkan foto korban karena menyukai sensasi. Jika berita hanya berupa teks maka daya sensasinya hilang. Oleh karena itu pelaku menambah sensasi dengan menyebarkan foto – foto tersebut untuk memperlihatkan dampak terburuk dari kejadian yang ada. Perlu hukuman sosial bagi para pelaku. Bisa di block atau dikeluarkan dari grup.

Menurut psikiater, melihat foto atau video yang tidak layak atau mengerikan dapat mempengaruhi psikologi seseorang. Hal itu dapat mengakibatkan teror dan ketakutan. Selain itu juga bisa memperparah kondisi bagi yang memiliki trauma dan gangguan kecemasan. Orang yang memiliki hati nurani baik akan risih melihat gambar tersebut karena mengoyak rasa kemanusian seseorang.

Jika foto dan video sampai pada keluarga atau orang terdekat korban, akan menyebabkan efek psikologi mendalam bagi mereka, seperti trauma, shock, atau stres. Orang yang tidak memiliki hubungan pun akan terganggu.

Menurut ahli, setiap orang mampu untuk memproses gambar, cerita, atau video, sehingga seolah – olah orang itu mengalami peristiwa tersebut. Hal ini yang dinamakan secondary trauma. Selain itu penyebaran konten tersebut juga bisa menghilangkan empati karena ada proses pembiasan. Hal ini menjadikan rasa empati terhadap korban memudar, sehingga respon emosi pada situasi tersebut menjadi tidak tepat.

Sumber:
kompas.com: Apa Motivasi Orang Menyebar Foto Korban Bom ?
www.halodoc.com: Stop Sebar Foto Korban Aksi Teror! Inilah Dampak Psikologisnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest