Ini Perbedaan Sikap Optimis dan Toxic Positivity

Saat Anda menemui suatu masalah mungkin banyak ajakan dari teman atau kerabat untuk selalu berpikir positif dan bersikap optimis. Sikap tersebut memang baik untuk kesehatan fisik dan jiwa. Namun  jika sikap optimis tidak diikuti dengan empati maka akan berubah menjadi toxic positivity.

Toxic positivity berasal dari niat baik seseorang yang ingin memberikan dukungan kepada orang lain. Tetapi hal ini justru akan memberikan emosi negatif kepada penerima sehingga membuat keadaannya semakin memburuk.

Untuk lebih mengetahui perbedaan sikap optimis dan toxic positivity, simak ulasan berikut ini.

Pengertian sikap optimis

Setiap orang berbeda-beda dalam menghadapi suatu masalah. Ada yang merespon dengan positif dan negatif. Seseorang yang menanggapi dengan positif berarti ia memiliki sifat optimis.

Optimisme sangat baik untuk kesehatan mental seseorang. Sikap optimis bisa tumbuh dari dalam diri sendiri dan dukungan di lingkungan sekitar seperti teman atau keluarga. Seseorang yang optimis  yakin jika hambatan yang muncul hanya berlangsung sementara sehingga masalah tersebut bisa diselesaikan dengan baik.

Selain itu seseorang yang optimis juga yakin jika permasalahan yang terjadi bukan salah siapapun. Cara berpikir seperti ini membuat seseorang  yang optimis yakin bisa merubah keadaan terpuruk menjadi lebih baik.

Bersikap optimis bukan berarti mengabaikan emosi negatif yang dirasakan seperti rasa sedih, marah, dan kecewa. Wajar jika saat menghadapi masalah merasakan hal tersebut. Namun dengan sikap optimis Anda bisa mengambil hikmah dan melihat masalah dari sudut pandang positif.

Toxic positivity

Berbeda dengan optimis, toxic positivity membuat seseorang fokus hanya kepada pemikiran dan sikap positif. Seseorang dilarang untuk merasakan emosi negatif. Sikap ini akan membuat emosi negatif menumpuk dalam pikiran seseorang sehingga membuat rasa tertekan dan semakin terpuruk.

Contoh perkataan yang menunjukkan toxic positivity :

  • “Kamu harus bahagia, nggak boleh sedih”
  • “Jangan selalu berpikir negatif, berpikirlah positif”

Pada dasarnya setiap dukungan pasti berawal dari niat baik untuk membuat orang lain keluar dari masalah. Namun dukungan tersebut menjadi ‘toxic’ karena diberikan dengan cara dan waktu yang kurang tepat sehingga justru membuat mental semakin down.

Cara memberikan dukungan tanpa toxic

Anda pasti merasa lega jika bisa meluapkan semua yang dipikirkan kepada orang lain. Lakukan hal yang sama jika orang lain bercerita kepada Anda. Biarkan ia mengungkapkan semua isi hatinya dengan bebas. Dengan begitu Anda bisa mendengarkan semua curahan hatinya serta memahaminya. Beberapa orang sebenarnya memang hanya butuh didengarkan bukan penyelesaian masalah.

Jika sudah merasa tenang, baru berilah motivasi yang membangun dan tidak menghakimi. Cobalah perhatikan cara dan waktu yang tepat saat melakukannya.

Jadi sikap optimis dan toxic positivity adalah dua hal yang bertolak belakang. Sikap optimis memahami masalah dari sudut pandang positif tanpa mengesampingkan emosi negatif. Sedangkan toxic positivity hanya fokus pada pikiran positif dan memaksa untuk menghilangkan semua emosi negatif.

Sangatlah wajar jika emosi seseorang berubah-ubah. Anda harus bisa memahaminya. Dengan bersikap optimis tanpa toxic, Anda akan lebih memahami orang lain dan menjalani hidup lebih baik.

Sumber :
https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/beda-optimis-dan-toxic-positivity/
https://www.kompasiana.com/elvirasm9/5df011e4097f3667e72b2692/yang-mana-diri-kita-optimisme-atau-toxic-positivity

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest