5 Mitos Kesehatan Mental yang Terlanjur Dinilai sebagai Fakta di Masyarakat

Mitos tentang kesehatan mental terkait erat dengan pandangan masyarakat terhadap topik satu ini. Selama bertahun-tahun lamanya, kesehatan mental seakan tabu untuk diperbincangkan. Meski kini berangsur-angsur berubah, dengan masyarakat yang telah terbuka dan mulai menaruh perhatian, mitos-mitos kesehatan mental masih lestari hingga kini. Apa saja mitos tersebut?

1. Disebabkan Kurangnya Iman

Barangkali pendapat inilah yang paling sering terdengar di lingkungan kita. Seseorang bisa terkena gangguan mental, penyebabnya adalah karena kurang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Apakah keduanya memang berhubungan?

Agaknya itu merupakan kesimpulan yang sembrono. Orang yang imannya rendah justru lebih dekat pada perbuatan-perbuatan maksiat, bukannya gangguan kesehatan mental.  Meski memang, tingkat spiritualitas terbukti berkontribusi positif terhadap kondisi mental. Namun keimanan bukan satu-satunya faktor yang berpengaruh, karena masih banyak faktor lain yang bisa membuat seseorang mengalami, misalnya depresi atau kesulitan menghadapi tekanan.

2. Gangguan Kesehatan Mental Aneh dan Tidak Umum

Masih banyak masyarakat yang menganggap gangguan kesehatan mental adalah sesuatu yang aneh dan tidak umum. Padahal WHO pada tahun 2001 mengestimasikan bahwa ada satu dari setiap empat orang penduduk Bumi pernah mengalami gangguan mental, setidaknya sekali dalam seumur hidup mereka.

Masih menurut WHO pula, saat ini terdapat 450 juta orang yang mengalami kondisi tersebut. Mereka juga menyatakan bahwa gangguan mental merupakan salah satu penyebab tertinggi seseorang dapat terjangkit penyakit dan kekurangan fisik masyarakat dunia.

3. Menandakan Penderitanya Lemah

Umumnya seseorang dengan gangguan kesehatan mental akan dianggap lemah, bahkan malas. Kemudian dinilai tidak membutuhkan perawatan intensif yang sama seperti diterapkan pada pengidap penyakit fisik.

Ada pula pendapat bahwa seorang yang memiliki karakter atau kepribadian lemah cenderung berisiko mengalami gangguan jiwa. Berbagai permasalahan hidup sejak kecil memang bisa memengaruhi jiwa seeseorang. Namun kenyataannya tidak semua orang yang masa lalunya keras atau traumatik, tumbuh dengan gangguan mental.

4. Penderita Hanya Pura-pura

Beberapa gejala yang dialami para penderita gangguan mental memang seringkali tidak masuk akal. Skizofrenia misalnya, pengidapnya kerap mengalami halusinasi, baik visual maupun auditorik sehingga ia merasa melihat atau mendengar sesuatu yang orang lain tidak bisa menangkapnya.

Sayangnya, orang-orang yang kurang paham tentang hal ini seringkali justru menganggapnya dibuat-buat. Memang tidak masuk akal, tetapi para ahli psikologi meyakini bahwa ada penjelasan ilmiah atas gejala tersebut.

5. Memicu Perbuatan Kriminal

Kalau boleh berseloroh, perbuatan kriminal atau kejahatan terjadi karena ada kemauan dan kesempatan, bukan gangguan mental. Pengidap gangguan mental yang kemudian melakukan tindak kriminal, seperti pembunuhan, penculikan, vandalisme, dan sebagainya hanya muncul dalam film. Hal itu tidak berlaku di dunia nyata.

Faktanya memang kerap terjadi ODGJ mengamuk dan melakukan perbuatan meresahkan. Hanya saja, kasus macam ini tidak dikategorikan sebagai tindak kriminal. Pasalnya ODGJ tidak mampu mengendalikan emosi yang memengaruhi tindakannya. Jadi, perilakunya hanya berdasarkan insting belaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest