Merekam Video Hubungan Seks, Apakah Termasuk Gangguan Jiwa?

Beberapa orang suka merekam video hubungan seks dengan pasangan. Tujuannya untuk disimpan sendiri sebagai kenangan atau untuk memanaskan hubungan. Sebenarnya tidak ada yang melarang melakukan hal tersebut selama untuk kesenangan sendiri dan atas persetujuan pasangan. 

Permasalahannya jika video tersebut tersebar diinternet atau media sosial sehingga menjadi konsumsi banyak orang. Hal itu tidak dibenarkan karena melanggar UU ITE tentang pornografi. Apalagi jika seseorang merekam hubungan intim dengan orang lain yang belum sah sebagai suami istri maka akan menjadi masalah besar bagi pelakunya.

Apakah suka merekam adegan seks merupakan sesuatu yang normal dilakukan, termasuk gangguan mental atau penyimpangan seksual? Mari simak ulasannya menurut para ahli.

1. Menurut Nuzulia Rahma Tristinarum, Psikolog klinis dari Pro Help Center, merekam hubungan intim mempunyai berbagai alasan diantaranya ingin menyimpannya sebagai kenangan, agar menjadi viral, untuk dijual, atau ada masalah seksualitas.

2. Psikolog klinis dari Kasandra & Associate, Kasandra Putranto menjelaskan bahwa merekam hubungan intim belum tentu mengalami gangguan psikologis tertentu. Walaupun memang ada gangguan psikologis tertentu yang memiliki ciri khas yaitu kesenangan dalam membuat dan menyimpan video porno termasuk juga video diri sendiri ketika berhubungan intim. Bisa saja seseorang melakukan hal itu karena imajinasi atau hasrat seksual semata.

3. Ahli kesehatan jiwa dari RS OMNI Alam Sutera,  Andri, berkata bahwa ada orang menganggap merekam hubungan intim diri sendiri berkaitan dengan kondisi mentalnya. Contohnya berkaitan dengan kepribadian narsistik karena bangga melihat keindahan tubuhnya sendiri. Padahal belum tentu seperti itu motif pembuatnya. Oleh karena itu perlu dilakukan diagnosa lebih jauh kepada pelakunya.

Andri menambahkan jika membuat video berhubungan seks dilandasi suka sama suka dan tidak merugikan atau mengganggu orang lain maka hal itu bisa dimaklumi. Perilaku yang tidak dibenarkan ialah jika video itu disebarkan.

4. Carolanne Marcantonio seorang sex therapist asal New York mengatakan bahwa pasangan yang sedikit nakal atau liar suka melihat aksinya di video hubungan seksnya. Alasannya untuk koleksi pribadi, ditonton bersama pasangan, atau untuk disebarkan. 

5. Michelle R. Berman MD, dokter sekaligus Profesor bidang seks menjelaskan bahwa secara medis orang yang suka merekam hubungan seksnya memiliki kelainan seperti exhibitionism dan voyeurism.

Penderita exhibitionism suka melakukan masturbasi atau merangsang bagian vital didepan orang lain. Sedangkan voyeurism adalah mendapatkan kepuasan seksual dengan melihat bagian tubuh tertentu pada lawan jenis. Oleh karena itu penderita voyeurism suka merekam hubungan intimnya agar bisa dilihat lagi saat ia ingin melakukan self sexual activity.

Bagi pasangan yang sudah menikah merekam hubungan intim sah-sah saja dilakukan. Bahkan menurut penelitian hal tersebut dapat meningkatkan inovasi dan kreativitas saat melakukan aktivitas ranjang. Alhasil hubungan intim menjadi tidak membosankan.

Tetapi perlu diingat merekam hubungan intim bersama pasangan memiliki resiko yang besar. Bisa terjadi bencana jika video tersebut tersebar saat hubungan Anda dengan pasangan sedang dilanda masalah. Resiko lainnya ialah apabila ada pihak yang sengaja mencuri lalu menyebarkannya sehingga dapat merugikan Anda dan pasangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest