Mengatasi Masalah Mental, Coba Terapi Perilaku Kognitif

Cara berpikir setiap orang berbeda – beda dalam menghadapi suatu situasi. Selain pikiran positif, pikiran negatif juga sering muncul. Hal ini dapat menyebabkan munculnya gangguan mental. Salah satu terapi yang disarankan untuk mengatasinya adalah terapi perilaku kognitif. Pada dasarnya terapi ini bertujuan mengubah pola pikir seseorang dalam menghadapi suatu masalah yang menyebabkan gangguan mental. Berikut ini penjelasannya.

1. Pengertian Terapi Perilaku Kognitif

Terapi perilaku kognitif sering disebut dengan Cognitive Behavioural Theraphy (CBT). Terapi ini biasanya digunakan untuk mengatasi depresi, stres, kecemasan, fobia terhadap suatu hal, dan gangguan mental lainnya.

CBT bertujuan untuk mengubah cara berpikir negatif menjadi positif sehingga kondisi mental menjadi lebih baik. Beberapa teori psikologi mengatakan bahwa ada cara berpikir negatif yang disebut negative reinforcement. Misalnya ada seseorang yang takut atau fobia dengan kecoa. Kemudian ia berpikir untuk mengatasi dengan cara menghindarinya. Hal ini hanya memberikan ketenangan dalam waktu singkat dan semakin menambah rasa takut terhadap kecoa. Ini yang dinamakan negative reinforcement.

Dalam terapi perilaku kognitif seseorang dituntut untuk menghadapi fobia tersebut dan meyakini tidak ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Keyakinan itulah yang akan menghentikan rasa takut yang dihadapi.

2. Yang perlu diketahui sebelum melakukan terapi

Terapi perilaku kognitif dapat dilakukan secara personal atau berkelompok, bisa dengan keluarga atau dengan penderita lain. Selain itu dapat dilakukan dengan bertemu langsung, melalui telepon atau video call.

Perlu diketahui bahwa orang yang diterapi wajib untuk dibawa pada situasi yang seharusnya dihindarinya. Misalnya saat seseorang takut laba – laba. Orang tersebut akan dimotivasi untuk memberanikan diri memengang laba – laba. Saat terapi dilakukan bisa jadi pasien akan marah atau menangis karena dibawa pada pengalaman dan perasaan yang menurutnya tidak menyenangkan. Pasien diharuskan untuk mengingat dan mencatat pola pikir dan perilaku positif yang harus dilakukan saat berhadapan dengan kondisi tersebut.

Sebelum melakukan terapi, sebaiknya anda berkonsultasi dahulu kepada psikolog atau psikiater tentang metode pendekatan, durasi waktu terapi, banyaknya sesi, tujuan yang  ingin dicapai serta biaya yang harus dikeluarkan.

Terapi ini biasanya dilakukan jangka pendek sekitar 10 – 20 sesi. Jumlah sesi tergantung dari beberapa faktor yaitu tingkat keparahan, lama gangguan yang diderita pasien, jenis gangguan dan masalah yang dihadapi, perkembangan pasien saat terapi, tingkat stres, dan besarnya dukungan dari orang terdekat.

3. Proses Terapi

Pada awal terapi, terapis dan pasien harus memastikan bahwa terapi ini adalah metode yang tepat untuk mengatasi masalah pasien. Terapis juga memastikan jika pasien nyaman selama terapi berlangsung.

Terapis akan menanyakan tentang masa lalu pasien, masalah yang dihadapi, riwayat dan gejala gangguan mental, kejadian yang mungkin membuat munculnya gangguan jiwa, dan tujuan yang ingin dicapai. Setelah masalahnya ditemukan, pasien diminta untuk mengeluarkan pemikiran dan perasaan negatif dalam menghadapi hal tersebut. Kemudian terapis mendiskusikan dengan pasien tentang dampak buruknya dan mencoba mengubah menjadi pola pikir dan perilaku positif.

Misalnya pasien takut dengan suatu hal. Pasien biasanya akan menghindari hal atau kondisi tersebut yang justru perilaku ini membuat tingkat ketakutan meningkat. Dalam terapi ini pola pikir pasien diubah dengan dilatih untuk menghadapi hal itu secara bertahap sehingga menjadi percaya diri jika berhadapan dengan hal atau situasi yang sama dikemudian hari.

Setelah pasien mengetahui pemikiran dan perilaku negatif yang perlu diubah, terapis menyarankan untuk melakukannya dalam kehidupan diluar sesi terapi. Pasien harus mengingatkan diri sendiri jika mencul pemikiran dan tindakan negatif dari dirinya dan harus segera menggantinya dengan pemikiran dan tindakan positif.

Walaupun pasien sudah merasakan perkembangan dari hasil terapi, ia harus tetap meneruskannya untuk mencegah gangguan mental kembali lagi. Memang mengatasi gangguan mental cukup sulit dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit, tetapi dengan keyakinan untuk sembuh dari pasien pasti akan mendapat hasil yang maksimal.

Terapi perilaku kognitif terbukti secara klinis merupakan terapi yang tinggi tingkat keberhasilannya. Hal tersebut sama efeknya dengan psikoterapi. Perbedaannya jika psikoterapi mengguankan obat- obatan yang tentunya memiliki resiko efek samping pada tubuh. Sedangkan CBT sama sekali tidak.

Menurut Dr Wild, walaupun seseorang berhenti mengikuti terapi, efeknya masih tetap bisa dirasakan karena orang tersebut sudah mengetahui cara baru untuk berpikir dan bertindak terhadap sesuatu yang ditakuti, dilansir dari detik.com.

Memang tidak semua penyakit mental bisa disembuhkan dengan terapi ini, misalnya seperti trauma yang dialami sejak kecil. Perlu waktu yang lebih lama dan identifikaisi yang lebih dalam. Selain itu keberhasilan terapi ini juga tergantung komitmen dan keseriusan orang yang menjalaninya. Jika dalam terapi pasien tidak merasakan perkembangan psikologis dalam dirinya, bisa dikonsultasikan lagi untuk mungkin mencoba terapi lainnya.

Sumber :
detik.com : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-2360627/cbt-terapi-perilaku-yang-bisa-singkirkan-gaya-berpikir-negatif
www.alodokter.com : https://www.alodokter.com/ketahui-apa-itu-perilaku-kognitif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest