Hustle Culture Toxic untuk Kesehatan Mental, Benarkah?

Saat ini, hustle culture menjadi kian populer, di mana produktivitas, pekerjaan, dan gaji diprioritaskan daripada kesehatan mental, hubungan baik dengan sesama, dan kebahagiaan. Hustle culture adalah budaya atau kebiasaan bekerja terlalu keras dan mendorong diri Anda melewati batas – untuk mencapai tujuan kekayaan dan kesuksesan.

Dengan semakin banyak orang yang bercita-cita untuk menjadi sukses, kebiasaan ‘gila kerja’ dan hustle culture menjadi sangat diagungkan, terutama di media sosial.  Tokoh terkenal seperti Elon Musk dapat menjadi contoh bagaimana cara ia menjadi kaya dan sukses. Hal itu semakin mengembangkan pola pikir dalam masyarakat di mana Anda harus bekerja lebih keras untuk menjadi orang yang sukses.

Fenomena ‘budaya hiruk-pikuk’ ini sangat lazim di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, karena masyarakat kita telah membentuk kepercayaan bahwa seseorang yang berprestasi di sekolah akan terus berprestasi dalam hidup. Masalahnya, hustle culture tidak seglamor yang dibayangkan banyak orang. Malah justru membuat banyak orang terdampak kesehatan mental atau burn-out dalam pekerjaan.

Jangan Lewatkan:  Ini Tanda Porsi Pekerjaan & Kehidupan Pribadi Tak Seimbang

Penyebab hustle culture

Meskipun data menunjukkan bahwa bekerja berjam-jam dan multitasking menurunkan produktivitas dan membunuh kreativitas, hustle culture ada karena ini adalah pencarian kesuksesan yang ekstrem.

Budaya ini menciptakan lingkungan toxic yang berkelanjutan di mana jika Anda menghabiskan terlalu banyak waktu untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, Anda merasa bersalah. Tentu saja hal ini memicu disonansi kognitif.

Hustle culture berpotensi menyebabkan toxic productivity 

Anda kerap mendengar istilah toxic hustle culture bukan? Ya, menjadi gila kerja memang tidak sepenuhnya baik, tetap tidak terlepas dari dampak buruknya. Tak hanya menyebabkan kesehatan mental terganggu, dampak hustle culture lainnya juga mengacu pada persaingan kerja yang kian pelik.

Jangan Lewatkan:  Cara Menjaga Hubungan dengan Penderita Gangguan Mental

Ketika hustle culture mengagungkan kecanduan kerja dan produktivitas, membuat banyak orang menginternalisasi pola pikir bahwa jika mereka bekerja sangat keras, mereka akan sukses suatu hari nanti. Ide sukses tersebut membuat banyak orang mengorbankan bahkan kebutuhan dasar hidup, seperti makan, tidur dan menjaga hubungan dengan orang lain.

Hustle culture hanya akan menciptakan persaingan yang tidak sehat di antara para pekerja karena kecemburuan mulai muncul ketika mereka mencoba untuk ‘mengejar’ satu sama lain. Budaya workaholic yang intens juga berarti bahwa seseorang mendasarkan harga diri mereka pada jumlah pekerjaan yang dapat mereka lakukan daripada kualitas diri sendiri sebagai pribadi.

Beberapa orang akan merasa bersalah jika tidak produktif seperti mengerjakan tugas atau melakukan lebih banyak shift di tempat kerja. Bahkan hal-hal sederhana seperti istirahat atau menonton serial televisi favorit akan membuat mereka membenci diri sendiri.

Jangan Lewatkan:  5 Fenomena Psikologis yang Tanpa Sadar Dialami Banyak Orang

Apa dampak positif hustle culture?

Meski demikian, manfaat nyata yang datang dari hustle culture adalah jaminan kesuksesan. Jika Anda terus bekerja keras, tanpa henti, bahkan setelah mengalami kegagalan, pada akhirnya Anda akan sampai di tempat yang Anda inginkan.

Kunci untuk menjadi sukses dengan apa pun adalah ketekunan serta belajar dari kesalahan Anda. Semakin keras Anda bekerja, semakin cepat Anda akan meraih kesuksesan.

Hustle culture mengharuskan Anda untuk sangat disiplin. Bekerja sepanjang waktu mungkin menjadi  hal yang sulit, tetapi ini dapat membantu Anda membangun ketangguhan mental.

 

Sumber: 

https://headversity.com/the-toxicity-of-hustle-culture-the-grind-must-stop/

https://medium.com/the-ascent/hustle-culture-helpful-or-toxic-db8daccf3e29

https://youthopia.sg/read/why-hustle-culture-was-toxic-for-my-mental-health/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest