Hati-hati, Dampak Pornografi bisa Lebih Buruk daripada yang Dibayangkan

Internet membuat akses informasi begitu terbuka. Kasus video syur mirip artis Gisella Anastasya yang beredar baru-baru ini adalah salah satu buktinya. Melalui twitter, seseorang mengunggah tayangan pornografi dan menyebarkannya ke khalayak umum. Dan dalam waktu sekejap, jutaan twit bermunculan membahas tentang video porno tersebut. Bahkan ini menjadi topik paling banyak diperbincangkan netizen selama beberapa hari.

Di satu sisi, internet memang memudahkan banyak hal. Namun itu bukan berarti hal-hal negatif akan hilang begitu saja. Kehadiran internet nyatanya membuat segala hal berbau pornografi terekspos secara lebih mudah.

Statistik Pornografi di Internet yang Mengkhawatirkan

dok: phys.org

Dikutip dari Psychcentral, statistik menunjukkan bahwa 12% dari seluruh konten internet adalah pornografi. Pencarian konten yang dilakukan pengguna internet, 25% di antaranya berkaitan dengan hubungan seks, jumlahnya sekitar 68 juta pencarian per hari. Dari total jumlah data unduhan dari internet, 35%-nya adalah pornografi.

Angka-angka persentase di atas cukup mencengangkan, tetapi itu masih belum semuanya. Di Indonesia, pornografi menjadi konten yang paling banyak diadukan oleh pengguna internet menurut catatan Kominfo.

Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise pada tahun 2017 sempat terkejut melihat fakta bahwa ada 50 ribu aktivitas pornografi dari pengguna internet Indonesia setiap harinya, di mana separuhnya terkait pornografi anak. (Tirto: 16 April 2017).

Lebih disayangkan lagi, ekspos pornografi terlalu mudah sehingga nyaris tidak ada batasan akses terhadapnya. Alustforlife.com melaporkan berdasarkan jurnal Paediatrics, yang memberi estimasi sebanyak 42% anak dan remaja berusia 10 – 17 tahun pernah menyaksikan pornografi.

Bahkan 70% pria berumur 18 – 24 tahun setidaknya akan menyempatkan diri untuk mengunjungi satu situs porno meski hanya sekali dalam sebulan. Kaum hawa pun ikut terpapar gejala yang sama, menyumbangkan sepertiga dari total jumlah pengakses pornografi di internet.

Lebih Jauh Tentang Dampak Pornografi

dok: uncommongroundmedia.com

Sebuah studi pada tahun 2017 menyurvei sebanyak 582 mahasiswa senior Third Military Medical University di China. Ditemukan bahwa 14,6% mahasiswa yang mengakses pornografi lebih dari tiga kali seminggu lebih rentan terhadap depresi dibandingkan mereka yang punya frekuensi lebih sedikit.

Sebelumnya kami telah menyinggung tentang bagaimana dampak menonton video porno. Bagaimanapun, besar kecilnya pengaruh pornografi  akan tergantung pada tinggi tidaknya frekuensi menonton dan berapa lama seseorang memiliki kebiasaan tersebut.

Para ahli masih belum sepenuhnya sepakat tentang hubungan sebab-akibat antara pornografi dan depresi. Kedua hal tersebut memang berkaitan, tetapi bukan berarti bahwa pornografi adalah satu-satunya pemicu depresi.

Dalam berbagai aspek kehidupan, ada banyak hal yang bisa menjadi penyebabnya. Tapi soal bagaimana pornografi bisa membuat seseorang kecanduan, berbagai penelitian telah membuktikannya.  

Tahap-tahap kecanduan pornografi hampir serupa dengan adiksi narkotika, alkohol, judi, atau hal lain. Pasalnya tayangan pornografi menyentuh dorongan naluriah manusia, yaitu hubungan seksual.

Pertama-tama seseorang terpapar pornografi untuk pertama kalinya. Itu bisa berawal dari diri sendiri, karena ada orang yang secara genetik cenderung impulsif dan mudah penasaran, kurang mampu mengekspresikan emosi, punya libido tinggi, atau senang mencari sensasi. Stres dan depresi juga cukup sering menjadi pemicu munculnya keinginan untuk mencari konten berbau seksual.

Penyebab lain, bisa juga karena faktor lingkungan, seperti trauma kekerasan seksual masa kecil. Lingkungan pergaulan dapat menyebabkan seseorang terpengaruh hal-hal negatif. Atau sebaliknya, seseorang yang kurang bersosialisasi, tidak memperoleh kepuasan dalam pergaulan, atau punya pengalaman buruk dalam hubungan asmara, bisa mencari kesenangan melalui pornografi dan menikmatinya.

Tahap berikutnya, seseorang dalam kondisi tertentu akan mulai bereksperimen sendiri dengan pornografi. Kemudian perilaku itu berkembang menjadi penyalahgunaan, sampai ketergantungan.

Seorang individu menyimak pornografi jauh lebih mendalam lagi, dan mulai merasa ada sesuatu yang hilang jika tidak melakukan, atau merasa kurang puas karena hanya mengakses dalam waktu kurang dari biasanya.

Itu terjadi karena produksi dopamin dalam otak masih kurang untuk memenuhi kapasitas yang dapat meningkatkan suasana hati. Jika suasana hati menurun karena produksi dopamin berkurang, perlahan-lahan itu akan memunculkan gejala depresi.

Seperti diketahui, depresi merupakan salah satu jenis gangguan mental yang paling banyak dialami. Depresi dapat menjadi masalah serius apabila sudah berkepanjangan dan memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Gairah hidup berkurang, tidak punya harapan, sampai sikap menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, yang bisa memicu tindakan irrasional seperti percobaan bunuh diri.

Pengaruh Pornografi pada Hubungan Suami Istri

dok: uk-rehab.com

Tentu saja banyak orang tidak setuju dengan adanya pornografi. Tapi sekali saja itu terpapar di depan mereka, kemungkinan akan muncul keinginan untuk dapat menikmatinya kembali di waktu lain

Masih menukil dari Alustforlife, pornografi ternyata bukan hanya memengaruhi kesehatan mental. Lebih jauh, itu dapat menyebabkan seseorang mengalami perubahan dalam menilai dirinya, utamanya terkait kondisi fisik dan perilaku seksualnya. Itu berdasarkan hasil studi yang diterbitkan lewat jurnal Psychology of Addictive Behaviours

Bahkan jika seseorang hanya mengakses pornografi secara kasual dan tidak kecanduan, masih ada kemungkinan negatif lain yang akan dia alami. Kebanyakan kasus yang terjadi adalah munculnya stres akibat tayangan pornografi memengaruhi hubungan suami istri.

Banyak pasangan merasa terbantu oleh pornografi, hubungan mereka menjadi semakin intim. Tapi ada pula yang merasa bahwa film porno telah mengubah pandangan seseorang terhadap pasangannya. Hal ini terutama terjadi pada seseorang yang gemar menonton film porno yang diproduksi secara profesional.

Industri film porno kebanyakan menampilkan pemeran pria dan wanita dengan standar proporsi tubuh yang rata-rata sama. Karena selalu sama, lama-kelamaan penikmat film porno akan menganggap bahwa citra fisik semacam itulah yang sempurna.

Selanjutnya dia akan membandingkan standar proporsi tubuh pemeran film porno dengan citra fisiknya sendiri atau malah memaksakannya kepada pasangan. Jika telah sampai dalam taraf sejauh ini, berarti pornografi telah memberikan pengaruh yang tidak sehat, sehingga penggunaannya harus segera dihentikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest