Siapkah Anda Menghadapi Quarter Life Crisis?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, tahukah Anda apa itu quarter life crisis (QLC)? Ada beberapa pengertian quarter life crisis yang berhasil kami temukan. Sebagian di antaranya akan disajikan dalam uraian berikut ini.

Apa itu Quarter Life Crisis?

Hidup manusia umumnya terbagi menjadi beberapa fase, mulai dari bayi, balita, kanak-kanak, remaja, dewasa, dan lanjut usia. Itu merupakan tahapan perkembangan manusia, yang masing-masnig memiliki ciri khas tersendiri.

Salah satu tahap paling penting dalam perkembangan tersebut berlangsung ketika seseorang beralih dari usia remaja menuju dewasa. Di sini, umumnya orang mulai melakukan pencarian terhadap jati dirinya, merasa memiliki tanggung jawab, dan berpikir mandiri untuk mengembangkan sistem nilai yang akan menjadi keyakinannya. Tak jarang ditandai dengan keinginan untuk hidup terpisah dari orang tua, demi memperoleh wawasan lebih luas tentang diri sendiri dan kehidupan pada umumya.  

Menurut Wood (et al, 2008), masa ketika individu mulai mengeksplorasi diri dan lingkungannya disebut dengan emerging adulthood. Dalam bahasa Indonesia, istilah tersebut diterjemahkan sebagai tahap pertumbuhan menuju dewasa.

Tentunya, setiap orang memiliki cara masing-masing kala menyikapi fase peralihan ini. Ada yang merasa senang, antusias, bahkan tertantang untuk menjelajahi kehidupan baru yang belum pernah dirasakan. Namun, sebaliknya ada pula yang merasa cemas, tertekan, dan hampa (Nash & Murray, 2010). Nah, jenis kondisi inilah yang sering disebut dengan quarter life crisis.

Robbins dan Wilner (2001) menyatakan bahwa individu yang saat melewati tahap perkembangannya tidak mampu merespons berbagai persoalan yang dihadapi dengan baik, diprediksi akan mengalami berbagai masalah psikologis, merasa terombang-ambing dalam ketidakpastian, dan mengalami krisis emosional atau yang biasa disebut quarter life crisis. Hal itu senada dengan pendapat Atwood & Scholtz (2008).

Sementara Fischer (2008) menyebutkan QLC adalah perasaan khawatir yang hadir atas ketidakpastian kehidupan mendatang, seputar relasi, karir, dan kehidupan sosial yang terjadi sekitar usia 20-an. Demikian pula Nash & Murray (2010), mengusulkan beberapa unsur tambahan yang dicemaskan seseorang, yaitu mimpi dan harapan, tantangan kepentingan akademis,  serta agama dan spiritualitas. Masalah ini biasanya muncul pada rentang usia antara 18 – 28 tahun.

Apa Penyebab Quarter-life Crisis?

quarter life crisis, depresi, remaja, dewasa, perilaku, stres, kriris, transisi

Kebanyakan penyebab quarter life crisis berasal dari lingkungan eksternal seseorang. Termasuk adanya pandangan akan masa depan ideal dari orang tua yang dipaksakan kepada anak. Mengkritisi langkah-langkah mandiri dari seorang anak, bahkan menuntut mereka untuk berlaku di luar kehendak. Meski bertujuan baik, hal itu malah bisa menjadi bumerang.  

Selain itu, pandangan dan penilaian dari lingkungan juga berperan penting dalam memengaruhi terjadinya QLC. Belakangan, kebanyakan orang menilai individu berdasarkan kesuksesan dalam hal finansial. Semakin kaya seseorang, biasanya dia akan mendapatkan penghormatan dan penghargaan lebih baik dibanding mereka yang ekonominya kurang mapan.

Konsep tersebut bisa saja menginspirasi mimpi dan harapan seseorang. Lantas segala hal yang dia lakukan di masa transisi ini adalah demi mewujudkan mimpi tersebut, tanpa memikirkan nilai-nilai lainnya dalam kehidupan. Sementara, jalan menuju kesana tidaklah semulus perkiraan. Alhasil, seseorang bisa saja menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, kriminalitas adalah salah satu buktinya. Dan jika ternyata mengalami kesulitan atau bahkan gagal mencapainya, bukan mustahil dirinya akan mengalami kekecewaan yang bisa berdampak negatif.

Tanpa dua faktor itupun, masa transisi menuju kedewasaan sudah cukup kompleks karena banyak hal terasa tidak pasti. Individu akan mempertanyakan banyak hal, termasuk soal kebahagiaan, masalah karir dan pekerjaan, pengembangan potensi keahlian, percintaan, idealisme dan keyakinan spiritual, hobi, penampilan, sampai tujuan hidup untuk diri sendiri dan manfaatnya bagi orang lain.

Ketika seseorang sudah yakin dengan pilihannya, dia masih harus mempertimbangkan pandangan eksternal yang bahkan bisa terlalu menghantui. Saat menemukan keinginan pribadi tidak sesuai dengan pendapat eksternal yang dia hargai, itu mengharuskannya berpikir lebih keras lagi agar dapat mengombinasikan atau memilih salah satunya.

Akibatnya bisa bermacam-macam, mulai dari kegagalan mengontrol emosi, stres dan depresi, cemas dan gelisah, bahkan tersesat dan tidak memiliki tujuan hidup. Jika itu terjadi, bisa dikatakan bahwa dirinya gagal melalui quarter life crisis dengan baik.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest