Menilik Fenomena Crosshijaber yang Menggemparkan Dunia Maya

Fenomena crosshijaber sempat menjadi perbincangan hangat publik. Kejadian ini juga meresahkan kita. Mereka adalah laki-laki yang bedandan layaknya perempuan muslim, lengkap dengan cadar sebagai penutup wajah. Beberapa dari mereka ditangkap karena kedapatan melakukan aksi kejahatan. Bila ditilik dari sisi psikologi fenomena ini merupakan salah satu tanda gangguan kesehatan mental yakni penyimpangan seksual.

Awal Mula Crosshijaber

Psikologi klinis Dessy Ilsanty menjelaskan, crosshijaber bukanlah fenomena yang baru. Istilah ini diadopsi dari istilah cross-dressing (berlintas-busana). Istilah ini muncul karena tren fashion hijab saat ini sedang naik daun. Pada buku mengenal perilaku abnormal  karangan supratiknya, perilaku ini merupakan ciri seorang transvestisme. Pelaku akan mengalami rangsangan seksual dengan berpakaian atau berdandan seperti lawan jenis.

Transvetisme yakni perilaku yang sering dianggap sebagai suatu penyimpangan yang merupakan gangguan kesehatan mental karena adanya keinginan dari seorang laki-laki atau perempuan yang mengenakan pakaian yang umumnya dikenakan oleh lawan jenisnya. Secara psikologis, perilaku ini dapat disebabkan kecemasan untuk menghilangkan stres, dipicu pengalaman masa lalu seperti kekerasan seksual yang pernah dialami.

Motif Dibalik Crosshijaber

Menurut penuturan Ida Ruwaida seorang psikolog dari Universitas Indonesia, perlu ditelusuri terlebih dahulu latar belakang dan motif para crosshijaber. Ia menuturkan, jika perilaku crosshijaber adalah laki-laki yang suka mengekpresikan dirinya dengan berpakaian perempuan, maka perilku tersebut tergolong ekspresi gender. Di sisi lain, psikolog klinis, Dessy Ilsanty mengatakan, kita tak boleh menghakimi dan memukul rata semua pelaku crosshijaber sebagai pengidap gangguan jiwa, dilansir dari alinea.id.

Sebenarnya perilaku crosshijaber bisa saja memiliki tujuan yang beragam mulai dari penyamaran untuk melakukan tindakan kriminal, hiburan atau ekspresi diri hingga mendapatkan kepuasan seksual. Ada juga yang motifnya memang ingin viral. Terlepas dari seksual atau non seksual motif pelaku crosshijab tersebut, keduanya tentu memiliki problem kejiwaan karena tidak wajar sebagaimana gendernya.

Crosshijaber yang disebabkan oleh gangguan perilaku seksual transvetisme ini dapat ditangani dengan perawatan yang tepat. Para ahli seperti dokter, psikiater dan psikolog akan menganalisis motif dan penyebab yang mendasari perilaku ini. Setelah itu akan diberikan tindakan seperti psikoterapi, pemberian obat-obatan maupun gabungan dari keduanya.

Sumber :
www.alinea.id : https://www.alinea.id/gaya-hidup/fenomena-crosshijaber-eksistensi-atau-gangguan-kejiwaan-b1Xoy9o2A

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest