Fakta, Angka, dan Data Kesehatan Mental di Indonesia

Seperti yang banyak diketahui, kesehatan seseorang tidak dapat dinilai hanya dari segi fisik saja, tetapi mental juga. Kesehatan mental perlu diperhatikan terutama karena tuntutan berikut beban hidup manusia semakin berat, seiring dengan pesatnya perkembangan zaman. Kondisi kesehatan mental dapat memburuk akibat tumpukan beban tersebut.

Jumlah Penderita Gangguan Kesehatan Mental di Indonesia

Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2018. Menyatakan bahwa prevalensi orang dengan gangguan jiwa berat (psikosis/ skizofrenia) mengalami peningkatan dari 0,15% menjadi 0,18%.

Sedangkan gangguan mental emosional pada penduduk berusia lebih dari 15 tahun juga meningkat dari 6,1% (tahun 2013) hingga 9,8% (tahun 2018). Hal tersebut bisa berarti bahwa sekitar 12 juta penduduk di Indonesia pada usia lebih dari 15 tahun menderita gangguan kesehatan mental berupa depresi.

Tak hanya itu, pada tahun 2016 Sistem Registrasi Sampel atau SRS memperoleh data bahwa telah terjadi sekitar 1.800 kematian yang disebabkan oleh bunuh diri. Ini juga berarti setiap harinya dapat dihitung terjadi lima kematian oleh kasus bunuh diri.

Survei Global Health Data Exchangepada tahun 2017 pun mencatat, terdapat sekitar 27,3 juta orang mengalami masalah kesehatan jiwa. Berarti terdapat satu dari sepuluh penduduk negeri ini menderita gangguan kejiwaan, sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pengidap gangguan jiwa tertinggi di Asia Tenggara.

Survei tersebut menyatakan bahwa gangguan kejiwaan paling banyak adalah kecemasan, yakni mencapai angka 8,4 juta jiwa. Kemudian disusul oleh depresi dengan jumlah sekitar 6,6 juta jiwa dan gangguan perilaku hingga 2,1 juta jiwa.

Fasilitas Kesehatan Jiwa Masih Minim

Buruknya kondisi kesehatan mental masyarakat Indonesia diperburuk lagi lewat sejumlah bukti. Yaitu bahwa sekitar 96,5% pengidap skizofrenia tidak mendapatkan perawatan medis yang semestinya.

Keberadaan rumah sakit jiwa di Indonesia juga terbilang minim. Hanya tersedia 48 rumah sakit jiwa pada tahun 2018 untuk menangani seluruh pasien tersebut. Di mana 32 di antaranya adalah milik pemerintah.

Persebaran unit rumah sakit jiwa pun tidak merata. Bahkan terdapat delapan provinsi yang tidak memiliki fasilitas rumah sakit jiwa, antara lain Sulawesi Barat, Kepulauan Riau, NTT, Kalimantan Utara, Papua Barat, Gorontalo, Maluku Utara, dan Banten. Padahal provinsi-provinsi, seperti Banten, Gorontalo, dan NTT memiliki jumlah hpenderita gangguan kesehatan mental yang cukup tinggi. Tak hanya itu, jumlah tenaga medis khusus kesehatan jiwa juga minim, yakni hanya sekitar 800 orang di negeri ini.

Itulah dia fakta-fakta terkait kondisi kesehatan mental yang ada di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, negara Indonesia masih dapat dikatakan minim dalam pencegahan dan penanganan gangguan kejiwaan. Semoga berdasarkan informasi ini, anda dan masyarakat luas dapat mengingat akan pentingnya menjaga kesehatan mental.

Solusi dari Kementerian Kesehatan

Pemerintah tidak menutup mata atas kondisi tersebut. Memang, sejauh ini belum ada gelagat dalam meningkatkan infrastruktur sarana kesehatan jiwa. Namun Kementerian Kesehatan memanfaatkan teknologi telah menyediakan platform khusus kesehatan jiwa bagi masyarakat.

Pada tahun 2015, Direktorat Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI bekerjasama dengan WHO meluncurkan aplikasi Sehat Jiwa. Fiturnya cukup menarik, di mana masyarakat dapat menemukan berbagai informasi terkait kesehatan mental dan kejiwaan. Termasuk mengecek, melaporkan, seerta mencari bantuan terdekat jika terdapat penderita gangguan mental dan kejiwaan di sekitarnya.

Jika ingin tahu lebih jauh tentang aplikasi tersebut. Anda bisa mengunduhnya melalui tautan berikut: Aplikasi Sehat Jiwa Kemenkes-RI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest