Efek Psikologis Menonton Film, Banyak Negatif atau Positif?

Ternyata film dapat menimbulkan efek psikologis pada manusia. Salah satu media hiburan paling digemari ini memang dapat membuat seseorang merasakan keseruan menyelami alur cerita yang disajikan. Ada berbagai jenis tayangan sinema menurut genrenya, seperti drama, romance, fantasi, horor, komedi, thriller, dan sebagainya. Masing-masing jenis dapat memicu reaksi berbeda, berikut informasi selengkapnya.

Film Memengaruhi Mental, Emosi, dan Perilaku

Salah satu bahasan dalam ilmu psikologi, di antaranya mengenai proses mental dan perilaku manusia. Di mana terdapat beberapa faktor yang memengaruhinya. Contohnya bisa berasal dari tontonan, tayangan, atau juga film. Sebuah tayangan tentu dapat mempengaruhi psikologis penonton, mulai dari kondisi emosional, pikiran, bahkan sampai perilakunya.

Misalnya ketika seseorang sedang menonton film romantis, ia akan memiliki kondisi emosional yang cenderung positif dan bahagia. Berbeda halnya dengan penonton film horor, maka ia akan merasakan ketegangan dan kecemasan saat film tersebut diputar.

Pikiran juga dapat dipengaruhi oleh film. Seperti ketika seseorang yang sedang menonton film detektif, ia bisa mempunyai cara berpikir yang baru dalam menyelesaikan suatu masalah.

Efek Negatif Menonton Film

Tak hanya segi emosional dan pikiran atau kognitif saja yang bisa terpengaruh oleh film. Film juga dapat menimbulkan efek samping pada perilaku penonton. Seseorang yang telah menyelesaikan satu film thriller, dimungkinkan mengalami kecemasan terhadap sekitarnya. Padahal sebelum menonton, dia tidak berperilaku semacam itu.

Bahkan dalam kondisi mental kurang fit, kecemasan tersebut dapat memicu gangguan lain, misalnya berupa kesulitan tidur, gelisah, dan stres. Tayangan horor atau thriller yang menyajikan adegan kekerasan, kecelakaan, pembunuhan, dan penembakan seringkali memiliki dampak psikologis lebih berbahaya bagi penonton.

Copycat effect atau kecenderungan untuk meniru adegan kekerasan ataupun pembunuhan merupakan hal yang perlu dihindari. Salah satu kasus akibat copycat effect ini adalah insiden penembakan di Colorado pada tahun 2012 silam. Di mana si pelaku mengidentifikasi dirinya sebagai Joker,  salah satu tokoh antagonis dalam film Batman: The Dark Knight Rises.

Film dengan mayoritas adegan berbahaya juga bisa memicu masalah psikologi pada individu. Biasanya seseorang yang memiliki kesehatan mental buruk akan lebih mudah mengalami depresi setelah menonton jenis film tersebut.

Pasalnya adegan film tak cuma berupa gambar visual, tetapi juga didukung oleh audio sebagai elemen pembangun adegan supaya lebih hidup. Tayangan hidup atau mendekati kenyataan membuat penonton mengembangkan imajinasinya masing-masing. Tentu saja akibatnya akan berbeda jika penontonnya adalah seseorang dengan kesehatan mental buruk.

Efek Psikologis Menonton Film

Meskipun begitu, tidak semua film menimbulkan dampak negatif. Seperti telah disebutkan tadi, film happy ending biasanya juga dapat menginspirasi penonton. Efek positif negatif film terhadap individu tergantung dua faktor yang saling memengaruhi. Yaitu adegan-adegan yang ditayangkan sekaligus kondisi mental seseorang. Film bisa menghibur dan menginspirasi, tetapi juga dapat memicu depresi.

Joker, karya sinema Todd Phillips dengan bintang utama Joaquin Phoenix sukses menggemparkan publik 2019 lalu. Di dalamnya memang berisi banyak adegan kekerasan, bahkan secara implisit terkesan memberikan dukungan terhadap aksi anarkisme massa. Tak heran jika mendapat kritik negatif dari berbagai kalangan.

Namun di sisi lain, film tersebut juga memunculkan inspirasi tersendiri. Bahwa seseorang harus benar-benar memiliki empati kepada orang lain. Kita tidak tahu orang lain sedang ada dalam kondisi baik atau buruk, jadi sepatutnya dia harus diperlakukan dengan baik. Sebisa mungkin kita tidak membuatnya tersinggung, apalagi memicu respon negatif yang bersifat merusak.

Maka dari itu perlu diperhatikan imbauan seperti batasan umur tontonan untuk menghindari efek yang tidak diharapkan. Jangan biarkan anak-anak melihat adegan berbahaya, apalagi terlalu sering. Karena proses perkembangan kognitif mereka belum sepenuhnya matang, sehingga anak-anak menganggap adegan tersebut nyata adanya. Jadi, bijak-bijaklah dalam memilih tontonan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest