Efek Negatif Kebiasaan Doomscrolling

Saat ini kegiatan berselacar di dunia maya sudah menjadi kebiasaan masyarakat. Setiap waktu seseorang akan memeriksa media sosial demi mendapatkan informasi terbaru. Saat pandemi melanda di seluruh dunia, setiap orang disarankan untuk mengurangi kegiatan diluar rumah. Hal ini membuat seseorang semakin sering mencari informasi di internet khususnya di media sosial. Namun kegiatan ini justru memicu munculnya fenomena doomscroling. Bagi yang belum tahu istilah doomscrolling, mari simak penjelasannya.

Ilustrasi : Kebiasaan Doomscrolling

Apa itu doomscrolling?

Doomscrolling juga sering disebut doomsurfing adalah kegiatan terus menerus mencari informasi tentang berita buruk yang mengakibatkan kecemasan dan ketakutan. Meskipun menyebabkan pikiran buruk, seseorang tidak jera, ia justru penasaran dan semakin menggali informasi tersebut lebih dalam. Mengapa demikian?

Secara naluri otak akan mendeteksi situasi yang berpotensi menimbulkan ancaman sehingga otak akan mencari cara untuk bertahan hidup. Hal ini yang membuat otak cenderung fokus pada informasi negatif dibandingkan positif.

Mengapa seseorang melakukan doomscrolling?

Dilansir dari kompas.com, Psikolog klinis dari Cleveland Clinic, Susan Albers mengatakan bahwa saat seseorang dalam pengaruh pikiran buruk, seseorang melakukan doomscrolling untuk menemukan informasi sebagai pembenaran atas apa yang mereka rasakan. Berita negatif akan menegaskan perasaan mereka.

Banyak orang tidak sadar bahwa doomscrolling sudah menjadi kebiasaan yang terus menerus dilakukan. Biasanya seseorang melakukan doomscrolling saat bosan dan mempunyai banyak waktu senggang.

Gangguan obsessive compulsive disorder atau OCD juga bisa memicu aktivitas doomscrolling. Penderita OCD melakukan doomscrolling untuk menurunkan kecemasan.

Dampak doomscrolling

Banyak membaca berita buruk bisa berdampak pada kesehatan mental. Hal itu bisa meningkatkan rasa kecemasan, ketakutan, dan stres.

Doomscrolling juga menyebabkan gangguan tidur yang bisa berdampak sakit pada tubuh. Selain itu juga menyebabkan kelelahan mental yang membuat seseorang menjadi sensitif dan mudah marah.

Menurut psikoanalis berlisensi di New Jersey, Babita Spinelli, doomscrolling bisa mengakibatkan munculnya gejala mirip gangguan stres pasca-trauma dalam kasus yang parah.

Cara mengatasi kebiasaan doomscrolling

Sebenarnya wajar bila seseorang mencari informasi di dunia maya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap situasi yang ada. Namun jika informasi tersebut justru menimbulkan perasaan cemas dan ketakutan, lebih baik berhenti melakukannya. Berikut ini adalah beberapa cara untuk mengatasi kebiasaan doomscrolling.

1. Batasi membuka media sosial

Anda harus dapat mengatur waktu saat mengakses media sosial. Misalnya dalam sehari hanya boleh melihat media sosial selama satu jam. Itupun dilakukan dengan pembagian waktu yang ditentukan. Pagi, siang, dan sore masing-masing selama 20 menit. Bila perlu, pasang alarm sebagai pengingat. Jika Anda kesulitan melakukannya, mungkin itu saatnya melakukan detoks media sosial.

2. Berhubungan dengan orang lain

Luangkan waktu beberapa menit untuk berhubungan dengan orang-orang terdekat seperti keluarga atau sahabat. Jika tidak bisa bertemu, Anda bisa telepon atau video call. Berhubungan dengan orang lain bisa membuat Anda merasa tidak sendiri dan terhindar dari doomscrolling.

3. Melakukan kegiatan lain

Anda bisa melakukan kegiatan seperti melakukan hobi yang disenangi. Dengan begitu Anda akan melupakan rasa bosan dan perasaan buruk yang dialami.

4. Meditasi

Anda dapat melakukan meditasi. Atur pernafasan dan pikirkan tentang hal-hal positif. Dengan begitu Anda dapat memperoleh ketenangan.

Jika Anda belum bisa melupakan pikiran buruk yang dialami, konsultasikan dengan psikolog atau psikiater agar gangguan yang dialami tidak semakin parah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest