Body Shaming dan Dampak Negatif yang Diakibatkannya

Isu body shaming sejak beberapa tahun terakhir memang hangat diperbincangkan. Apakah Anda pernah menjadi korban yang dipermalukan orang lain karena memiliki satu atau beberapa fitur tubuh yang menonjol?

Apa itu Body Shaming?

Pengertian body shaming adalah tindakan mengolok-olok bagian tubuh manusia, entah itu untuk tujuan bercanda atau benar-benar menghina. Korban yang mendapat perlakuan demikian, seringkali adalah wanita gemuk. Tapi ini juga berlaku bagi para pria, atau mereka yang bertubuh kurus.

Perilaku meledek ini semakin banyak kita temukan di media sosial, bahkan tak jarang berubah menjadi fenomena cyberbullying. Gurauan ini sebaiknya tidak pernah dilakukan karena berpeluang besar memicu timbulnya masalah psikologis bagi para korban. Berikut dampak body shaming yang perlu Anda ketahui:

Dampak Body Shaming

Ada garis jelas antara lelucon dan hinaan. Bisa dikatakan bercanda jika kedua belah pihak tertawa, tetapi tidak ada yang tahu bagaimana kondisi psikologis mereka yang menjadi bahan guyonan itu.

Membuat korban tidak aman dan tidak nyaman

Jika kamu sudah sering membuat lelucon yang mengarah ke fisik, seperti “Kok, kamu sekarang gendutan,” atau “Wajahmu sekarang makin mulus seperti bulan,” maka kamu adalah aktor pelaku body shamming yang bisa menyebabkan seseorang menjadi tidak aman. Seseorang yang tidak aman dan tidak nyaman akan menarik diri dari lingkungannya dan kehilangan kepercayaan diri.

Korban body shamming akan menutup diri dan merasa lebih memilih menyendiri

Terlalu sering menjadi korban body shamming akan membuat seseorang menutup diri dan tidak mau berinteraksi. Ia merasa bahwa orang hanya melihat dirinya hanya dari penampilan fisik, sehingga ia enggan menunjukkan dirinya kepada dunia luar. Faktanya, dia juga tidak ingin menjadi dirinya yang sekarang. Sekaligus mempertanyakan terus menerus dalam dirinya, “Mengapa semua orang terus menghina dia secara fisik?”

Mencegah orang lain berkembang

Pelaku body shamming secara tidak sadar telah membuat orang lain jauh dari kesuksesan. Apalagi jika korban memiliki rasa percaya diri rendah dan tidak memiliki motivasi untuk membuktikan diri. Bukan tidak mungkin, selamanya korban akan selalu menarik diri dan tidak melakukan apa-apa.

Bagaimana cara menghentikan body shaming?

Jika Anda termasuk orang yang sering menceritakan lelucon berkaitan dengan tubuh teman atau orang lain, ada baiknya Anda menghentikannya sekarang juga. Namun, jika Anda menjadi korban body shaming, ada beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk mengatasinya.

Ganti topik

Hal paling sederhana yang dapat Anda lakukan adalah mengubah topik pembicaraan. Sekarang, perbanyaklah wawasan Anda tentang berbagai pengetahuan umum, berita, dan tren. Itu akan memudahkan Anda mengganti topik pembicaraan jika seseorang mulai terdengar mengkritik penampilan Anda.

Toh, tidak ada salahnya memperbanyak wawasan, karena itu akan sekaligus memacu diri Anda untuk terus berkembang. Lagipula, jika Anda nyambung dengan setiap topik obrolan, pandangan orang lain terhadap Anda juga bisa berubah.

Klaim bahwa Anda punya cara sendiri

Orang sering merasa bahwa pemahaman, pendapat, dan cara yang mereka terapkan dalam kehidupan masing-masing adalah yang paling benar. Sehingga ketika muncul pandangan baru yang berlawanan, seringkali individu cenderung akan menyalahkan khasanah baru tersebut.  

Tapi bagaimanapun, Anda juga harus menegaskan bahwa Anda pun sama independennya seperti mereka. Beritahukan kepada para aktor itu bahwa Anda juga punya cara untuk menjaga tubuh tetap bugar dan sehat. Misalnya, jika Anda mendapat anjuran sedikit memaksa untuk mencoba diet tertentu, tekankan bahwa Anda bisa menjaga diri tanpa diet dengan mengonsumsi makanan sehat.

Berikan sanggahan intelektual

Inilah salah satu manfaat gemar mencari ilmu dan wawasan. Jika seseorang mengkritik tentang bagaimana Anda menjaga kesehatan atau bentuk tubuh, gunakan wawasan Anda tadi untuk menyanggah pernyataan tersebut.

Anda dapat mencari-cari hasil penelitian atau mengutip pendapat ahli yang berkaitan dengan kritikan itu. Misalnya dalam kasus paksaan diet tadi, Anda bisa membantahnya dengan kesimpulan professor A tentang seseorang yang memotong asupan makanannya secara berlebihan berpotensi memiliki nafsu makan lebih besar di kemudian hari.

Namun tentunya, Anda pun harus bijak saat menyanggah segala kritikan. Body shaming memang bisa berdampak buruk, tetapi debat kusir, pertengkaran, apalagi kandasnya hubungan pertemanan juga merugikan, bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest