Bahaya Silent Treatment, Bentuk Kekejaman Emosional

Suatu hubungan asmara atau pertemanan tidak selamanya berjalan mulus. Dalam menjalaninya pasti ada saja konflik yang terjadi. Bisa karena perbedaan pendapat, kurang komunikasi, cemburu, dan lain-lain. Beberapa orang memilih melakukan silent treatment untuk mengakhiri perselisihan yang terjadi. Namun cara ini cukup rentan membuat hubungan menjadi renggang dan berakhir dengan perpisahan.

Silent treatment adalah perilaku mendiamkan atau mengabaikan seseorang dengan tidak berbicara kepadanya. Hal ini karena seseorang sudah merasa marah, lelah, dan frustasi dengan permasalahan yang ada. Sebenarnya hubungan yang ideal adalah adanya saling keterbukaan dan komunikasi sehingga bisa mengungkapkan segala yang dipikirkan dan dirasakan.

Silent treatment berbeda dengan menunda pembicaraan. Menunda pembicaraan berarti memberikan ruang sementara waktu kepada teman atau pasangan. Setelah merasa tenang barulah membicarakan permasalahan dan berupaya menyelesaikannya. Sedangkan silent treatment menolak untuk berbicara dalam waktu yang lama bahkan tidak ingin membicarakan masalah yang ada.

Tidak adanya keterbukaan dan komunikasi, membuat kesempatan untuk menyelesaikan masalah menjadi hilang. Masalah yang dibiarkan terus-menerus akan mengakibatkan hubungan menjadi berjarak dan bukan tidak mungkin akan terjadi perpisahan.

Silent treatment juga merupakan bentuk kekejaman emosional. Seseorang bisa menggunakannya untuk mengontrol orang lain atau membuat jarak emosional. Selain itu juga digunakan untuk menutupi kesalahan dan menghindari tanggung jawab.

Berikut ini ciri orang yang menggunakan silent treatment untuk mengontrol pasangan pada sebuah hubungan.

Silent Treatment
Ilustrasi : Seseorang tidak mau mendengarkan pasangan
  1. Mendiamkan pasangan selama berhari-hari.
  1. Menjadikan silent treatment sebagai cara utama saat ada konflik.
  1. Tidak menjawab telepon, membalas pesan, dan tidak berbicara.
  1. Tidak menanggapi penjelasan pasangan.
  1. Memaksa pasangan untuk meminta maaf agar ia mau berbicara Lagi. 

Pelaku silent treatnent akan merasa mengontrol dan menguasai orang lain. Sedangkan korban akan merasa bingung dan khawatir jika hubungannya akan berakhir. Hubungan tersebut menjadi tidak sehat karena tidak ada penyelesaian masalah. Jika hal tersebut terjadi terus menerus, akan membuat hubungan menjadi toxic dan abusive.

Sering tidak dipedulikan membuat pasangan menjadi merasa bingung, tidak percaya diri, tidak berharga, dan tidak dicintai. Dampak yang lebih parah bisa menimbulkan kecemasan dan depresi. Penelitian juga mengungkapkan bahwa silent treatment meyebabkan kurangnya keintiman dan komunikasi yang tidak baik dalam suatu hubungan.

Cara menghindari perilaku silent treatment

Sebelum perilaku silent treatment menghancurkan sebuah hubungan, ikuti tips berikut ini untuk menghindarinya.

1. Tingkatkan komunikasi

Komunikasi merupakan kunci hubungan yang sehat. Diskusikan dengan teman atau pasangan bagaimana cara berkomunikasi yang tepat jika terjadi pertengkaran. Dengan begitu akan terhindar dari silent treatment.

2. Saling terbuka

Anda harus saling terbuka dengan teman atau pasangan. Katakan dengan jujur apa yang membuat sedih, marah, atau kecewa. Dengan begitu akan bisa saling memahami perasaan satu sama lain.

3. Hubungi psikolog

Jika tidak mengalami titik temu dalam komunikasi, segera konsultasikan kepada psikolog untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada.

Silent treatment yang dilakukan dengan durasi yang lama dan terus menerus tidak akan menyelesaikan masalah. Hal itu justru membentuk kekerasan emosional karena membuat korbannya menjadi bingung, tertekan, bahkan stres. Jadi lebih baik selesaikan masalah dengan rasa tenang, komunikasi yang jelas, dan diwaktu yang tepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest