Mengenal Self Harm, Perilaku Menyakiti Diri Sendiri

Apa itu self harm? Self harm adalah perilaku menyakiti atau melukai diri untuk menyalurkan emosi yang terpendam tanpa bermaksud mengakhiri hidup. Perilaku menyakiti diri tersebut bisa berupa menyayat bagian tubuh, menggigit, memukul, dan sebagainya. Pelaku menganggap hal ini sebagai solusi untuk bisa bertahan dari tekanan emosi yang dialami. 

Istilah lain dari self harm salah satunya adalah self mutilation (mutilasi diri). Ada juga yang menyebutnya self cutting behaviour (perilaku melukai diri). Meski perilaku ini menimbulkan kesakitan secara fisik, tetapi banyak yang melakukannya. Bahkan pelaku cenderung ketagihan dan ingin menyakiti diri lagi dan lagi.

Penyebab Melakukan Self Harm

1. Kesulitan Mengekspresikan Diri

Tidak semua orang bisa memahami dan mengekspresikan emosi yang dirasakan. Saat berada dalam kondisi emosi yang buruk, self harm menjadi salah satu solusi yang dilakukan untuk mengurangi tekanannya. Self harm juga digunakan sebagai cara menunjukkan kepada orang lain betapa berat tekanan emosi yang dialami. Sekaligus memperlihatkan bahwa ia perlu mendapat perhatian dan pertolongan.

2. Trauma Masa Lalu

Seseorang tanpa sadar bisa mengingat trauma atau pengalaman buruk yang dialami pada masa lalu. Ingatan tersebut sukar dikendalikan dan muncul kapan saja. Alhasil ia menyakiti dirinya sendiri untuk memaksa pikirannya agar kembali fokus pada kondisi saat ini. Dengan begitu ia dapat kembali mengendalikan pikirannya dan terbebas dari traumanya tersebut.

3. Perlakuan Masa Kecil

Ketika kecil seseorang hidup di lingkungan yang melarangnya merasakan emosi negatif, seperti menangis, sedih, atau kecewa. Jika sampai meluapkannya, maka ia akan menerima konsekuensi, misalnya dimarahi atau diejek. Perlakuan tersebut membuat seseorang tidak bisa merasakan atau memahami emosi negatifnya, sehingga ketika dewasa ia kerap melakukan self harm. Menurutnya emosi negatif bisa tersalurkan secara nyata saat dia merasakan sakit secara fisik.

4. Mengalami Gangguan Mental

Sebagian pelaku self harm didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental, seperti stres, depresi, skizofrenia, kecemasan, dan lainnya. Dilansir dari pijarpsikologi.org, sebuah survei di Inggris mengemukakan bahwa seseorang yang memiliki gejala gangguan mental lebih sering menyakiti diri sendiri di masa lalu. 

5. Pain Offset Relief

Pain Offset Relief merupakan kondisi di mana seseorang pada umumnya memberikan tanggapan tak menyenangkan atas rasa sakit yang diterima. Tapi kemudian merasa senang setelah merasakan sakit tersebut untuk kesekian kalinya. Para peneliti beropini jika pelaku self harm seperti memasuki fase pain offset relief. Saat melukai diri pertama kali, pelaku memang merasakan sakit yang hebat. Tapi setelah melakukannya beberapa kali ia akan merasakan suatu kelegaan. Adanya kaitan menyakiti diri dengan perasaan lega, membuat pelaku menjadi kecanduan dan kemungkinan besar kembali menyakiti diri.

6. Merasa tidak Berharga

Seseorang yang sering mendapatkan kekerasan dan bullying, baik secara fisik maupun mental, akan merasa dirinya tidak berharga. Ia bisa saja melakukan kekerasan terhadap diri sendiri, semata-mata karena merasa pantas diperlakukan seperti itu. 

Cara Mengatasi Self Harm

Jika Anda terperangkap dalam perilaku self harm, segera sadari dan berhenti melakukannya. Anda bisa mengalihkannya dengan cara melakukan hobi atau aktivitas menyenangkan. Seperti olahraga, mendengarkan musik, atau melampiaskan emosi pada benda, misalnya samsak.

Anda disarankan bercerita kepada keluarga, kerabat dekat, atau pergi ke psikolog bila perlu. Itu bisa meringankan beban yang anda rasakan. Jangan takut atau malu bercerita, Anda harus merasa lebih kuat dan berharga supaya bisa melewati semua masalah dengan baik. Jangan pedulikan apa yang dipikirkan orang lain. Yakinlah bahwa semua orang layak hidup bahagia, termasuk Anda.

Apabila self harm terjadi pada keluarga atau kerabat dekat, jangan mengejek atau mengucilkannya. Anda tak tahu seberapa besar masalah dalam hidupnya sehingga ia nekat melakukan perbuatan tersebut. Ia melakukannya bukan karena mau, tetapi untuk mengatasi tekanan dalam dirinya. Cobalah sedikit membantu dengan memintanya bercerita, lalu mendengarkan segala curhatan yang ia ungkapkan. Anda juga bisa menyarankan untuk pergi ke psikolog atau psikiater jika keadaannya semakin memburuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest