5 Negara dengan Penderita Gangguan Jiwa Terbanyak di Dunia

International Health Metrics and Evaluation (IHME), pada tahun 2016 mengestimasi bahwa sekitar lebih dari 1,1 miliar penduduk dunia mengalami gangguan kesehatan mental. Angka yang cukup besar itu berdasarkan data dari negara-negara yang memiliki jumlah pasien dengan gangguan mental terbanyak.  Nah, apa saja negara tersebut? Mari kita sedikit mengulasnya.

1. Greenland

(dok: abc.net.au)

Posisi pertama ditempati Greenland, negara otonomi khusus di bawah naungan Kerajaan Denmark. Jumlahnya penderita gangguan mentalnya mencapai 22,14% dari total populasi atau sekitar 12.440 jiwa penduduk. Jumlah itu lebih banyak daripada penduduk ibu kotanya sendiri, Nuuk yang hanya sekitar 18 ribu jiwa.

Bahkan negeri di kawasan Arktik ini memiliki rekor persentase bunuh diri tertinggi di dunia. Pada medio 1985 hingga 2012, tercatat angka rata-rata 83 orang mengakhiri hidupnya sendiri setiap tahunnya. Bahkan menurut data Pemerintah Greenland, terjadi satu kasus bunuh diri setiap minggu pada tahun 2010 saja. Fakta itu terasa mengerikan. Meski akhir-akhir ini terjadi pengurangan angka, tetapi itupun tak cukup signifikan.

Ada beberapa penyebab tingginya angka bunuh diri penduduk Greenland.  Salah satunya akibat kegagalan masyarakat pribumi beradaptasi dengan modernitas. Suku pribumi Inuit yang mendominasi seluruh wilayah Greenland, masih memegang teguh gaya hidup tradisional. Sementara Denmark membawa pembangunan negeri es ini ke arah modernitas. Yang ternyata juga membawa dampak buruk terhadap kondisi psikologis masyarakat pribumi.

2. Australia

(dok: sydney.com)

Setiap satu dari lima orang penduduk Australia menderita gangguan mental. Bahkan sedikitnya 45 persen penduduk Australia setidaknya pernah mengalami kondisi kesehatan mental yang terganggu. Maka tak heran jika kesehatan mental menjadi topik pembicaraan umum di Negeri Kangguru.

Kisaran usia penderita terbanyak mulai 16 sampai 85 tahun, tanpa peduli gendernya. Di antara rentang usia tersebut, paling mendapat sorotan adalah penduduk berusia menginjak dewasa, yakni 18 – 24 tahun. Dengan gejala gangguan yang juga cukup bervariasi, seperti kecemasan berlebih, depresi, penyalahgunaan alkohol dan obat.

Setiap satu orang penderita bisa memiliki lebih dari satu jenis gejala. Contohnya seorang penderita depresi kemungkinan juga kecanduan alkohol atau obat-obatan yang notabene dikonsumsi untuk penyembuhan penyakitnya sendiri. Sementara angka bunuh dirinya tak jauh lebih baik daripada Greenland. Menurut Black Dog Institute, sedikitnya ada 30 kasus percobaan bunuh diri terjadi setiap harinya, enam di antaranya berhasil.  

3. Amerika Serikat

(dok: foxnews.com)

Beralih ke posisi berikutnya. Gelar sebagai negara adidaya tampaknya tak membuat Amerika Serikat memiliki imunitas terhadap masalah kesehatan mental. AS merupakan negara dengan populasi terbanyak ketiga di dunia, setelah China dan India. Pun negeri Paman Sam sekaligus berada di posisi ketiga terbesar dunia dalam hal jumlah penduduk dengan gangguan kesehatan mental.

Persentasenya 21,56%, dari total populasi berjumlah kurang lebih 328 jiwa. Tidak heran jika angka penderita masalah kesehatan mental negara yang kini dikepalai oleh Donald Trump ini mencapai sekitar 70 juta jiwa. Dari 70 juta jiwa tersebut, 40 persen di antaranya terdiagnosis menderita gangguan kecemasan berlebih atau ansietas (anxiety). Ini merupakan gejala paling umum dialami warga AS. Terutama mereka yang berada di rentang usia dewasa, 18 tahun ke atas.

Masalahnya, tak semua penderita berkenan memeriksakan diri guna memperoleh perawatan. Padahal ansietas terbukti berpotensi memicu gejala-gejala lain, salah satunya depresi. Lebih mencemaskannya lagi, pengalaman depresi juga telah nyata meningkatkan risiko bunuh diri. Data Lembaga Sosial Pencegahan Bunuh Diri di AS, AFSP, mencatat bahwa bunuh diri merupakan penyebab kematian terbesar ke-10 di AS. Dari sekitar 1,4 juta percobaan bunuh diri pada 2018, 48 ribu di antaranya ‘sukses’. Dan meski penduduk wanita lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan mental, potensi bunuh diri paling besar justru terjadi pada kaum pria, terutama berusia paruh baya.

4. Selandia Baru

(dok: bbc.com)

Seperti halnya Greenland, lokasi geografis Selandia Baru berada di wilayah dingin. Bahkan Selandia Baru dikenal memiliki panorama alam memukau, yang membuatnya jadi favorit para pelancong wisata. Tapi di sisi lain, nyatanya negeri koala menduduki posisi keempat dalam daftar ini. Dengan persentase sedikit di bawah Amerika Serikat, yakni sebesar 21,28%.

Berdasarkan survei yang dilakukan departemen kesehatan setempat periode 2017/2018, ditemukan bahwa satu dari enam orang Selandia Baru menderita gangguan kesehatan mental, atau setidaknya pernah mengalami gejala-gejalanya dalam suatu periode hidupnya. Gejala paling umum antara lain depresi, gangguan bipolar, serta kecemasan berlebih. Dengan penduduk perempuan memiliki risiko lebih besar daripada laki-laki. Pun dengan jumlah terbesar dialami oleh penduduk nonkulit putih, seperti bangsa Maori dan Pasifik.

Pandemik yang melanda dunia sejak awal tahun ini juga memberi dampak psikologis bagi warga Selandia Baru. Sedikitnya sebagian kecil (9%) penduduk usia dewasa mengalami disfungsi sosial akibat stres psikologis selama empat minggu terakhir hingga pertengahan Juli. Seperti catatan Communicty & Public Health Selandia Baru (16/07).

5. Iran

(dok: abcnews.go)

Sebenarnya cukup mengejutkan ketika mengetahui negara cabe rawit seperti Iran juga berada di peringkat kelima dalam daftar ini. Persentase penduduk dengan gangguan kesehatan mental nyaris mendekati 20 persen, atau tepatnya 19,93%. Angka yang cukup besar mengingat jumlah populasi Iran saat ini mencapai kurang lebih 83 juta jiwa. Namun ada sedikit kontroversi mengenai besaran nilai tadi.

Kalau biasanya pemerintah suatu negara terkesan menutup-nutupi, atau memanipulasi data sehingga angkanya tidak terlalu dramatis, di Iran tidak demikian kondisinya. Banyak pihak mengeluarkan data-data terkait jumlah penderita masalah kesehatan mental di Iran, termasuk departemen yang berwenang dan para praktisi kesehatan.

Menurut Menteri Kesehatan setempat, jumlahnya sekitar 23 persen. Sementara beberapa ahli, seperti Profesor Nematollah Fazeli mengestimasi angka 13 juta jiwa, atau kurang lebih hanya 16%. Sebagian pakar kesehatan lain juga mengutarakan angka yang jauh lebih besar, yakni mencapai 27 persen dari total populasi. Bahkan seorang penasehat Departemen Kesehatan Iran, Ahmad Ali Noor Bala menyatakan, “Sekitar 50% penduduk menderita gangguan kesehatan mental parah akibat masalah ekonomi.” Menurut Anda, manakah yang paling benar?

Sumber:
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/06/09/negara-negara-dengan-penderita-gangguan-mental-terbesar
https://tirto.id/daerah-mana-yang-punya-kasus-gangguan-jiwa-terbanyak-cCBb
https://www.npr.org/sections/goatsandsoda/2016/04/21/474847921/the-arctic-suicides-its-not-the-dark-that-kills-you
https://www.blackdoginstitute.org.au/wp-content/uploads/2020/04/1-facts_figures.pdf?sfvrsn=10
https://afsp.org/suicide-statistics/
https://adaa.org/about-adaa/press-room/facts-statistics
https://www.cph.co.nz/your-health/mental-illness/
https://www.iranfocus.com/en/life-in-iran/34055-statistics-of-mental-disorders-in-iran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest