3 Efek Psikologis yang Positif dari Gambar Tato

Budi Dalton, budayawan yang ‘menyamar’ sebagai anak geng motor, pemusik, sekaligus pemilik bermacam-macam gambar tato di tubuhnya. Satu yang paling digemari adalah gambar bunga teratai menghiasi punggung tangannya. Diperolehnya tidak lain semasa tinggal di sebuah wihara di Thailand, sebagai simbol bagi dirinya yang merupakan seorang pengajar.

Fenomena Tato

Pria bernama asli Budi Setiawan Garda Pandawa mengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan Bandung. Menurutnya Thailand juga memiliki budaya tato tersendiri. Tato gambar teratai seperti miliknya hanya boleh dibubuhkan kepada pengajar. Seperti halnya gambar macan pada petarung thai-boxing atau simbol angka sembilan yang khusus untuk biksu Budha.

Di Indonesia sendiri, tato memang bukanlah sebuah fenomena baru. Hanya saja belakangan kembali populer terutama di kalangan anak muda. Bahkan masyarakat Dayak, Mentawai, dan Suku Moi di Papua memiliki tradisi tato yang tertua di dunia. Bukan sekadar menghiasi permukaan kulit tubuh, melainkan juga simbol perjalanan spiritual, status sosial, identitas kelompok, hingga penolak bala.

Jika sebelumnya mengandung makna holistik, pada zaman modern tato berkembang dengan stigma negatif. Di Jepang, seseorang yang merajah tubuhnya sering diidentikkan sebagai anggota geng Yakuza. Pemerintah setempat bahkan secara resmi melarang penggunaan tato hingga tahun 1948. Sampai kini orang-orang Jepang bertato masih dinilai negatif oleh masyarakat.

Tak cuma di Jepang, tato umumnya mendapat perlakuan buruk di dunia kerja. Amerika Serikat yang dikenal negara bebas, angkatan daratnya baru saja memperbolehkan prajurit bertato tanpa batasan tertentu kiranya sejak 2015 lalu. Maskapai penerbangan Selandia Baru, Air New Zealand juga baru melonggarkan aturan tato milik para stafnya.

dok: hindustantimes.com

Sementara di Indonesia, sebagian besar masyarakat masih menganggap rajah tubuh identik dengan budaya preman. Padahal secara tradisi, bukti-bukti menunjukkan bahwa negeri ini punya tradisi tato turun temurun sejak zaman nenek moyang, meski hanya di suku-suku tertentu.

Prof. Dr. Sunyoto Usman dari UGM Yogyakarta mengutarakan bahwa tato mengalami pergeseran makna. Dulunya dari masyarakat tradisional, kemudian menjadi bagian dari entitas kelompok tertentu yang punya kekuatan.

Pada masa Orde Baru, merajah tubuh adalah tanda bahaya. Tingginya kriminalitas kala itu akibat banyaknya preman yang meresahkan masyarakat. Kebanyakan dari mereka memiliki tato, atau menjadikan gambar tertentu di kulit mereka sebagai identitas kelompoknya.

Pemerintah tak tinggal diam, mengerahkan aparat guna menumpas siapa saja yang mencurigakan, dengan tato tertentu sebagai salah satu indikatornya. Petrus (penembakan misterius) berlangsung selama 1983 – 1984 terutama di Pulau Jawa, kebanyakan korbannya adalah orang-orang bertato. Benar tidaknya kebijakan itu sendiri masih menjadi misteri sampai sekarang.

Efek Psikologis dari Gambar Tato

dok: balmonds.co.uk

Peneliti Jerman pada 2012 menemukan hubungan antara tato dengan proses aktualisasi diri dalam studi mereka. Sampelnya terdiri dari 540 individu berdomisili di bagian Eropa Tengah yang berbahasa Jerman.

Para responden mendapat pertanyaan untuk mengetahui Lima Kepribadian Besar (Big Five Personality) mereka. Di antaranya dalam hal mencari keunikan personal, harga diri, sensasi, keyakinan agama dan spiritual, serta sikapnya terhadap tato.

Hanya 22% dari responden mengaku setidaknya punya satu tato di tubuhnya. Hasil survei menunjukkan bahwa responden bertato umumnya memiliki ekstraversi lebih baik daripada mereka yang tidak sama sekali.

Ekstraversi sendiri identik dengan ekstrovert, kepribadian yang mudah merasa nyaman saat berinteraksi dengan orang lain. Mereka ini cenderung lebih senang bersosialisasi, hidup berkelompok, sekaligus tegas. Selain itu, responden bertato juga memiliki nilai neurotisme yang rendah. Ini berarti mereka lebih mampu menghadapi tekanan dan stress, tenang, percaya diri, serta berpendirian kuat.

Umumnya para pemilik tato akan langsung gentar jika melamar kerja di  instansi-instansi formal, seperti bank, lembaga pemerintah, layanan kesehatan, dan beberapa lembaga konservatif lainnya. Sebaliknya, seni rajah tubuh masih diterima dengan baik di sektor-sektor informal, seperti dunia hiburan, fesyen, atau bidang kreatif lainnya. 

Selama ini dunia profesional selalu dikaitkan dengan kemampuan berorganisasi dan ketahanan terhadap berbagai tekanan. Karyawan kemungkinan besar bisa sukses di dunia kerja jika memiliki dua kualitas tersebut.

Meski itu tak berarti membenarkan atau menyalahkan pilihan seseorang untuk merajah tubuhnya, tato memang bisa memberikan dampak psikologis cukup besar. Itu pula yang menjadi alasan mengapa seseorang bersedia menderita demi mendapatkannya.

Tato Membuat Seseorang Tampak Menarik dan Meningkatkan Percaya Diri

dok: standard.co.uk

Tubuh manusia dirupakan sebagai kanvas kosong oleh pelukis tato. Maka, baik pemilik tubuh maupun pelukis tato, akan berusaha semaksimal mungkin demi menghasilkan gambar terbaik. Ini hampir sama seperti seseorang yang menjalani operasi plastik untuk membuat dirinya terlihat lebih baik. Dan kemudian itu akan membuatnya merasa lebih nyaman membawa diri.

Seperti dikutip dari PsychologyToday, kenyamanan itu akan berdampak pada bagaimana pandangan orang lain terhadapnya. Setidaknya, orang bertato lebih banyak mendapatkan perhatian daripada mereka yang tidak. Tato bisa menjadi persona awal seseorang yang bisa dinilai orang lain, menggantikan peran wajah atau gaya berpakaian seseorang.

Orang Bertato Cenderung Lebih Berani Mengambil Risiko dan Berhenti Mencemaskan Kehidupan

dok: omaha.com

Proses menggambar tato sendiri sudah berisiko, melibatkan rasa sakit yang cukup menegangkan. Belum lagi ketika usia seseorang telah menua dan kulitnya makin keriput, gambar tato yang dulunya kencang akan ikut berkerut.

Tentu saja hal itu telah terpikirkan, hanya saja orang bertato tidak memedulikannya. Orang bertato cenderung berperilaku memanfaatkan momen saat ini dengan sebaik-baiknya, tanpa mengkhawatirkan masa depan.  

Seseorang bernama Amy Bleuel mendirikan organisasi Project Semicolon yang mendorong para penderita depresi, anxiety, kecanduan, dan keinginan bunuh diri untuk menggambar tato titik koma di pergelangan tangan mereka. Filosofinya, titik koma adalah tanda baca yang digunakan ketika seorang penulis akan mengakhiri kalimat, tetapi kemudian berubah pikiran dan meneruskannya kembali. Penulis adalah para anggotanya, dan kalimat itu adalah kehidupan mereka. (Liputan6: 11 Juli 2015)

Gambar Tato Menjadikan Individu Merasa Unik dan Punya Ruang Tersendiri

dok: independent.co.uk

Pada tahun 2006 Myrna L. Armstrong, dokter kulit di Texas Tech University Health Services Center menyurvei 196 wanita yang menghapus gambar tato mereka. Myrna mengajukan dua pertanyaan, yaitu alasan mereka membuat tato dan mengapa kemudian menghapusnya. Jawaban pertama, sebagian besar karena ingin merasa unik. Sedang jawaban kedua, karena mereka menjadi malu seiring bertambahnya usia. (Washington Post: 21 Juli 2008).

Kalau wanita cenderung menyesal setelah mentato tubuhnya, tidak demikian dengan kaum pria. Lelaki cenderung merasa lebih nyaman. Bahkan perasaan itu bisa makin bertambah seiring berjalannya waktu. Faktanya, klinik dermatologi lebih banyak menerima pasien hapus tato dari kalangan perempuan dibandingkan laki-laki.

Manusia cenderung lebih mudah berhubungan dengan manusia lain yang memiliki kesamaan. Pastinya, itu terjadi pula pada mereka yang bertato. Norma sosial kebanyakan masih menganggap tabu gambar tato. Ketika orang bertato kurang diterima masyarakat, mereka akan mencari lingkungan baru yang lebih kondusif. Dan akan lebih mudah jika lingkungan tersebut memiliki banyak kesamaan dengan dirinya.

Bukan tanpa alasan anggota geng Yakuza menggambar tato ular naga di tubuh mereka. Kesamaan tema gambar tersebut membuat mereka lebih mudah dikenali, sekaligus merepresentasikan komitmen mereka sebagai anggota geng. Demikian pula 90% prajurit angkatan darat Amerika Serikat. Mereka menjadikan gambar tato sebagai simbol kebanggaan, cara untuk mengenang rekan-rekan yang gugur, atau mengingat peristiwa tragis yang mereka alami di medan perang.

*Dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest