7 Alasan Seseorang Ragu Periksa ke Psikolog

Illustrasi Konsultasi Psikiater

Masalah kesehatan mental kini sudah semakin menjadi perhatian serius masyarakat. Semakin banyak orang yang menyadari bahwa persoalan mental juga sama seriusnya dengan masalah kesehatan fisik. Pasalnya, kondisi yang mengganggu mental juga dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Hal ini lah yang membuat mulai banyak orang yang ingin periksa ke psikolog.

Meskipun sudah mulai banyak yang sadar akan pentingnya kesehatan mental, masih banyak orang yang ragu untuk periksa ke psikolog maupun psikiater. Hal ini tidak lain karena stigma yang melekat sekaligus kepercayaan bahwa apa yang dirasakan tidaklah serius.

Artikel ini akan mengajak Anda membahas beberapa alasan mengapa seseorang ragu periksa ke psikolog maupun psikiater.

1. Merasa masalah yang dialami tidak serius

Banyak orang merasa masalah yang dialami tidaklah buruk ataupun serius. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa terapis akan berpikir bahwa masalah mereka tidak cukup buruk untuk terapi.

Anggapan umum masyarakat adalah bahwa mereka harus sudah berada di titik krisis untuk bisa meminta bantuan. Padahal, justru lebih baik jika bantuan tersebut didapatkan sebelum kondisi kesehatan mental menjadi sangat buruk hingga sulit dikendalikan.

Tidak menganggap serius masalah juga bisa menjadi merupakan salah satu cara menghindari kenyataan. Jika sudah terbiasa mengatasi semua sendiri, meminta bantuan memang akan terasa tidak nyaman. Meski demikian, hal ini sebenarnya akan sangat membantu kondisi mental Anda.

2. Tidak nyaman membicarakan masalah pribadi

Bicara masalah pribadi dengan orang asing memang akan terasa tidak nyaman. Anda mungkin akan takut terlihat aneh, bodoh, atau bahkan tidak tahu harus membicarakan apa.

Hal ini sangat wajar dan sebenarnya bukan masalah. Anda mungkin baru akan merasa nyaman setelah melewati beberapa sesi. Jangan khawatir, Anda bisa melakukan terapi dengan perlahan dan sesuai dengan kenyamanan. Tujuan terapis adalah membantu, bukan untuk menghakimi apa yang sedang Anda alami atau rasakan.

3.Periksa ke psikolong atau psikiater hanya untuk gangguan jiwa

Stigma negatif dan diskriminasi terkait kesehatan mental membuat banyak orang tidak ingin mencari bantuan psikolog. Banyak orang takut dianggap gila, tidak waras, dan sebagainya hanya karena pergi ke psikolog. Padahal, istilah ini saja tidak ilmiah dan tidak digunakan oleh para praktisi kesehatan.

Jangan takut dianggap tidak waras hanya karena Anda periksa ke psikiater. Justru dengan memeriksakan diri, Anda akan menjadi lebih tenang karena dokter akan menuntun agar bisa menemukan cara yang sehat dalam menghadapi masalah.

Selain itu, ada berbagai kondisi psikis yang hanya bisa dipahami oleh profesi ini. Seseorang yang periksa ke psikiater tidak serta merta mengalami depresi. Berbagai macam masalah kesehatan mental lain juga harus didiagnosis dan mendapatkan perawatan tepat agar pasien sehat kembali.

4. Tidak percaya dengan psikiater maupun terapis

Beberapa orang tidak ingin memeriksakan kesehatan jiwa mereka karena tidak percaya dengan profesi psikiater maupun psikolog. Ada perasaan bahwa mereka hanya menjadi dokter jiwa demi uang. Padahal, pada umumnya dokter jiwa ini memilih menjadi psikolog atau psikiater karena mereka peduli dengan kesehatan orang lain dan benar-benar ingin membantu.

Seorang psikiater maupun psikolog akan membutuhkan banyak waktu bersama pasien agar bisa menentukan diagnosis dan perawatan yang tepat. Seseorang yang hanya mengincar uang tidak akan bisa bertahan lama mendengarkan pasien mereka berbicara lama dan menentukan diagnosis yang sesuai.

5. Biaya yang mahal

Masyarakat umum beranggapan bahwa biaya untuk periksa ke psikolog maupun psikiater sangat mahal. Tergantung dengan diagnosa dan lama perawatan biaya berobat untuk kesehatan ini terkadang memang tidak murah. Namun, terapi untuk kesehatan jiwa merupakan investasi yang baik agar terbebas dari masalah yang lebih berat dan mungkin saja dapat mengganggu berbagai aspek kehidupan Anda.

Untungnya, berobat ke psikolog maupun psikiater sudah ditanggung BPJS. Beberapa faskes 1 juga sudah menyediakan poli jiwa untuk Anda berobat. Jika kebetulan faskes 1 tempat Anda terdaftar tidak menyediakan poli jiwa, Anda selalu bisa meminta rujukan untuk periksa ke rumah sakit yang menyediakan layanan psikiater maupun psikolog.

Hingga saat ini, masih banyak orang yang beranggapan bahwa kesehatan mental bukanlah masalah kesehatan yang perlu ditangani dokter. Padahal, sama halnya dengan kesehatan fisik, masalah kesehatan mental juga bisa mengganggu kehidupan sehari-hari.

Jika merasa ada yang salah dengan kondisi Anda, jangan ragu untuk memeriksakan kesehatan jiwa dan mental Anda.

Teylita Andriyarini

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *