Hati-hati, Hal Inilah yang Bisa Terjadi pada Korban Gaslighting

korban gaslighting, korban, gaslighting, hubungan, asmara, cinta, pasangan, manipulasi, inferior, superior, anxiety, depresi, kesehatan mental

Korban gaslighting bisa siapa saja, demikian pula pelakunya. Kadang kala itu terjadi secara natural tanpa seorang pun menyadarinya. Sebelum beranjak ke sana, apakah Anda pernah mendengar istilah manipulasi? Kalau iya, tahukah Anda dengan fenomena gaslighting? Benar, gaslighting adalah salah satu bentuk manipulasi.

Apa itu Gaslighting?

Gaslighting biasanya terjadi dalam sebuah hubungan yang kurang sehat. Di mana satu pihak melakukan manipulasi untuk membuat pihak lain seakan-akan lemah, menjadi ragu, hingga merasa bersalah.

Ketika terjadi konflik atau adu argumen, pelaku gaslighting akan bersiasat dengan memutarbalikkan ucapan korban atau kenyataan secara cerdas, sehingga korban kemudian merasa seolah-olah dirinyalah penyebab konflik tersebut, padahal kenyataannya tidak demikian.

Tentu saja, perilaku manipulasi semacam itu cukup berisiko. Korban senantiasa akan merasa inferior dalam suatu hubungan, sehingga dapat mengalami gangguan mental, mulai dari depresi, anxiety, ketergantungan, bahkan trauma jika itu melibatkan kekerasan fisik. Berbahaya, bukan? Nah, guna memahami lebih jauh tentang perilaku ini, berikut beberapa hal yang perlu Anda ketahui.

dok: powerofpositivity.org

Pelaku ingin Korban Gaslighting Terlihat Inferior

Perilaku gaslighting berhubungan dekat dengan tipe kepribadian narsistik. Orang-orang semacam ini hidup untuk memuaskan diri sendiri, tanpa perlu memikirkan apalagi memedulikan orang lain. Orang lain hanya akan berarti jika bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kemauan mereka.

Sebagai pribadi yang narsistik, pelaku gaslighting bisa melakukan segala cara untuk menundukkan korbannya secara psikologis. Ia akan mempelajari korbannya dengan teliti, menggunakan berbagai celah untuk membuat korban ‘selalu rela mengalah’ pada kemauan pelaku. Dengan begitu, pelaku gaslighting akan merasa berposisi lebih tinggi dari si korban.

Ia ingin Membuat Korban Menyesal

Pelaku gaslighting memiliki caranya tersendiri untuk membuat korban menyesali perbuatannya. Ketika konflik terjadi, pelaku merancang strategi untuk menakuti korban secara halus, seperti melalui ancaman tentang dampak negatif dari konflik yang tengah terjadi.

Kemudian korban cenderung akan merasa bahwa dirinya penyebab masalah, sehingga berkewajiban memperbaikinya. Meski pada dasarnya konflik yang terjadi bukanlah disebabkan oleh kesalahannya.

Korban Gaslighting akan Mempertanyakan Keyakinannya

Individu yang merasa inferior mengungkapkan pendapat, tetapi selalu dipatahkan oleh lawan bicara yang ia hormati, bahkan ia takuti. Tentu saja ini tidak sehat, karena argumen dari si superior akan mendapat tempat tersendiri bagi si inferior, sehingga ia senantiasa mempertanyakannya kembali.

Sesuatu yang diyakini, meskipun telah benar mewakili fakta yang terjadi, akan selalu bisa diproyeksikan untuk memunculkan keraguan si korban. Dalam konflik, korban yang harusnya tidak salah, bisa berakhir dengan menyalahkan diri sendiri karena merasa menjadi pemicu konflik.

Pelaku Mempersenjatai Diri dengan Kelemahan Korban

Pelaku gaslighting mungkin akan cukup bersabar untuk meneliti dan mempelajari individu. Dia akan mencari tahu semuanya, kelebihan dan kekurangannya, hingga nilai-nilai yang menjadi pegangan dalam hidupnya.

Sebagai contoh, pelaku gaslighting bisa menanamkan ketergantungan akan kebersamaan. Lalu pada sebuah konflik, mendadak mengungkapkan argumen yang menyatakan bahwa dirinya siap berpisah kapan saja. Itu karena dia tahu bahwa si korban sangat tak mungkin menyetujuinya.

Contoh yang lebih mengkhawatirkan, pelaku dapat membuat ancaman-ancaman tertentu, misalnya membuka aib keluarga, menyebarkan koleksi galeri pribadi, dan lain sebagainya.

Korban Terjebak dan Sulit Melepaskan Diri

Gaslighting berkaitan dengan toxic relationship yang dapat memicu berbagai hal, salah satunya kekerasan fisik dan mental dalam hubungan. Sayangnya, kecenderungan itu terjadi nyaris secara natural, di mana pada umumnya korban tidak menyadarinya.

Jika itu terjadi dalam hubungan berpasangan, prosesnya akan berlangsung dalam waktu cukup lama, setidaknya sampai kedua pihak sama-sama telah mengenal pribadi masing-masing hingga cukup jauh.

Dan ketika korban sudah menyadari dirinya sering dimanipulasi, kadang dia malah enggan dan berat untuk menghentikan berhubungan, karena merasa telah melalui perjalanan terlalu jauh. Padahal, perasaan enggan dan berat itu pun sebenarnya dipicu oleh manipulasi tiada henti.  Jadi, sebaiknya hati-hati, ya! [Source]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *