5 Fenomena Psikologis yang Tanpa Sadar Dialami Banyak Orang

fenomena psikologis, fenomena, psikologis, psikologi, depresi, kecemasan berlebihan, gangguan kecemasan, sindrom, insecure, anxiety, gejala

Kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari ternyata merupakan salah satu bentuk dari fenomena psikologis. Beberapa di antaranya menjadi objek penelitian ilmiah, sehingga para ilmuwan kemudian berhasil merumuskan berbagai teori tentangnya.

Nah, berikut ada lima jenis fenomena psikologis yang faktanya umum terjadi dan dialami banyak orang, tetapi hanya sedikit yang tahu, apalagi benar-benar menyadarinya. Apa saja?

1. Phantom Vibration Syndrome

dok: e-spincorp.com

Zaman sekarang, ponsel seperti menjadi bagian tak terpisahkan dari seseorang. Saking lekatnya, sebagian orang merasa ada yang kurang jika berjauhan dari ponselnya masing-masing. Bagi sebagian yang lain, tentu saja hal tersebut terkesan berlebihan, tetapi itulah yang terjadi.

Phantom vibration syndrome adalah perasaan ketika individu merasakan ilusi bahwa ponselnya bergetar, padahal tidak. Terdengar familiar?

Biasanya hal ini terjadi pada mereka yang terlalu lekat dengan ponselnya secara berlebihan. Kemunculannya seringkali terjadi jika kebiasaan memakai ponsel secara berlebihan itu berlangsung dalam jangka waktu sedikitnya satu bulan.

Ilmuwan menduga, fenomena psikologis phantom vibration syndrome terjadi karena korteks serebral dalam otak salah dalam menerjemahkan rangsangan. Serebral mengiranya sebagai getaran ponsel atau nada dering, padahal bisa jadi hanya kontraksi otot semata. Tapi jangan khawatir, karena sindrom ini dapat dihentikan dan tidak menyebabkan kerusakan. Cukup dengan memberikan waktu-waktu bebas ponsel dan disiplin menaatinya.

2. Event Boundary

dok: pinterest

Fenomena psikologis berikutnya adalah event boundary. Untuk mengetahui pengertiannya, cobalah mengingat apakah Anda pernah mengalami sesuatu seperti ilustrasi berikut ini.

Suatu ketika Anda sedang berada di kamar tidur. Lalu menemukan bahwa ada sepotong pakaian yang sudah kotor, sehingga perlu diletakkan di ruang cuci. Anda pun mengambil baju tersebut dan membawanya keluar kamar. Dengan maksud menuju ruang cuci di belakang untuk menempatkan baju kotor di keranjangnya. Tapi sesampainya di ruang cuci, Anda lupa akan melakukan apa, malah kemudian beranjak ke dapur untuk mengambil minum.

Ya, event boundary adalah fenomena lupa mendadak yang terjadi ketika memasuki ruangan berbeda. Mobilitas dari satu ruangan ke ruangan lain menyebabkan peralihan fokus yang drastis. Jadi, seseorang akan sulit mengingat kembali apa yang ia pikirkan di ruangan sebelumnya, tentang tujuan perpindahannya ke ruangan baru tersebut.

Gabriel Radvansky, ilmuwan dari Notre Dame telah menghabiskan hampir 20 tahun meneliti fenomena tersebut. Akhirnya mendapatkan kesimpulan bahwa fenomena psikologis satu ini berhubungan dengan kesalahan otak dalam menanggapi perubahan drastis yang terjadi dalam perpindahan seseorang dari satu ruangan ke ruangan lain. Cara mengatasinya, Anda dapat mengingat-ingat apa yang akan dilakukan dengan menggumamkannya saat berpindah dari satu ruangan ke ruangan yang lain.

3. Earworms

dok: inc.com

Siapa yang tidak suka mendengarkan lagu? Dari semua lagu atau musik yang didengarkan, pasti ada satu yang kerap terngiang-ngiang meski telinga kita sudah jauh dari pengeras suara. Tapi, tahukah Anda bahwa ini adalah termasuk fenomena psikologis?

Benar, earworms atau istilah aslinya involuntary musical imagery adalah fenomena yang terjadi ketika musik menarik yang baru didengarkan, terulang-ulang terus di pikiran ketika sudah tidak lagi diputar. Ini adalah fenomena umum dan merupakan contoh dari kognisi yang spontan.

Beberapa penelitian menunjukkan beberapa kesimpulan mengenai gejala earworms. Pertama, pemicu earworms biasanya adalah pengalaman atau ingatan yang tiba-tiba muncul tanpa sengaja, karena lagu dan musik biasanya berkaitan dengan memori seseorang.

Penelitian James Kellaris mengungkapkan bahwa 98 persen orang mengalami fenomena psikologis earworms. Kaum hawa lebih sering dan lebih lama mengalaminya daripada kaum pria. Sementara lagu-lagu yang terngiang biasanya memiliki tempo cepat dan komposisi yang catchy.

4. Reminiscence Bump

dok: tucson.com

Reminiscence bump merupakan kecenderungan pada lansia untuk dapat lebih mudah mengingat peristiwa selama masa remaja hingga awal masa dewasa dibanding periode-periode lainnya. Orang tua lebih mudah mengingat pengalamannya semasa rentang usia 16 – 25 tahun. Di luar usia-usia tersebut, mereka cenderung akan lebih susah mengingat apa yang terjadi. 

Fenomena psikologis reminiscence bump berhubungan dengan studi tentang memori otobiografi, serta penempatan memori-memori untuk membentuk kurva umur pada peristiwa yang paling diingat. Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa kebanyakan orang dewasa cenderung mengingat peristiwa semasa remaja hingga umur 20-an lebih baik daripada usia lainnya.

Mengapa bisa demikian? Penjelasannya berhubungan dengan kecenderungan yang terjadi pada rentang usia tersebut pada sebagian besar orang. Umumnya fisik seseorang dalam kondisi prima pada usia tersebut, sehingga banyak peristiwa yang kemudian masuk dalam memori dan mudah diingat-ingat. Lalu terjadinya perubahan-perubahan cepat akibat berlakunya proses pencarian jati diri, yang kemudian diikuti dengan periode yang relatif stabil hingga memasuki masa dewasa.

5. Impostor phenomenon

Lady Gaga

Imposter syndrome adalah fenomena psikologis, yaitu perasaan ragu terhadap diri sendiri dan insekuritas atau rasa tidak aman karena kerap merasa diremehkan atau terus menerus dikritik.

Seseorang dengan impostor syndrome biasanya adalah mereka yang sukses atau meraih prestasi yang banyak diinginkan orang. Namun alih-alih bahagia karena kerja keras telah membuahkan hasil, mereka malah merasa bahwa kesuksesannya itu hanyalah faktor keberuntungan, atau mungkin hasil dari membodohi dan menipu orang lain.

Psikolog klinis, Jaruwan Sakulku dari Bangkok Counselling Service mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen orang pernah mengalami impostor syndrome pada beberapa titik dalam hidup mereka. Itu termasuk beberapa tokoh populer, seperti penyanyi Lady Gaga dan David Bowie, penulis sekaligus aktivis HAM Maya Angelou, petenis Serena Williams, hingga aktor kawakan Tom Hanks.

Siapa yang tak mengakui nama-nama tersebut? Tapi bagi mereka yang mengalami sindrom ini, dalam dirinya terjadi pergolakan karena tidak dapat mengakui keberhasilannya sendiri. Dan kebanyakan sindrom ini terjadi pada wanita, meski tidak sedikit pula pria yang mengalaminya.

Impostor syndrome cenderung menunjukkan gejala yang berkaitan dengan depresi, anxiety, dan rendahnya kepercayaan diri. Para ahli memercayai bahwa penyebabnya bisa bermacam-macam faktor, seperti stereotip gender, kondisi keluarga masa kecil, hingga budaya lingkungan setempat. Jika menghadapi fenomena psikologis sindrom impostor ini, cara mengatasinya adalah dengan menikmati apa yang disukai, daripada terobsesi dengan nilai-nilai kepatutan yang dicanangkan sendiri atau oleh lingkungan.

Source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *