Tiga Poin Penting yang Perlu Diketahui tentang Gaslighting

manipulasi, gaslighting, kepribadian, narsistik, depresi, gangguan mental

Gaslighting adalah bentuk manipulasi untuk mengerdilkan seseorang, meruntuhkan kepercayaan diri, hingga melunturkan keyakinan. Tujuannya agar orang pelaku akan mudah mengendalikan si korban menurut keinginannya.

Pelaku gaslighting biasanya membuat korbannya ragu-ragu atau tidak yakin dengan diri sendiri. Di sisi lain si pelaku juga akan merasa superior dan lebih berkuasa daripada si korban. Dengan begitu, dia akan mudah mengendalikan orang yang termanipulasi untuk menuruti keinginannya.

Manipulasi semacam ini cenderung berisiko melemahkan psikologi. Rasa percaya diri korban dapat berkurang, bahkan keyakinan terhadap sesuatu pun bisa hilang secara perlahan. Tentu saja hal ini dapat menjadi pemicu kecemasan berlebih, mental breakdown, hingga depresi. Nah, agar lebih memahami tentang perilaku gaslighting ini, ada beberapa hal yang perlu diketahui, di antaranya:

1. Berawal dari sebuah film

Ada sebuah film berjudul Gaslight yang rilis tahun 1940-an, dengan pemeran utama Charles Boyer dan Ingrid Bergman. Film tersebut menceritakan tentang perbuatan manipulatif seorang suami kepada istrinya.

Gaslighting si suami dilakukan dengan mengubah lingkungan sekitar sang istri, menjauhkannya dari keluarga dan teman-teman, bahkan melecehkan dan mengendalikannya. Akhirnya sang istri percaya bahwa dirinya mengalami gangguan mental, hingga menjadi sosok hipersensitif.

2. Karakter korban Gaslighting

Seringkali gaslighting terjadi pada orang-orang dengan empati tinggi, atau mereka yang merasa harga dirinya rendah, dan suka mengasihani diri sendiri. Tapi manipulasi semacam ini juga bisa terjadi pada siapa saja. Kecuali pada orang-orang dengan karakter kuat, penuh percaya diri, dan cerdas dalam membuat batasan.

Jadi, sebaiknya berhati-hatilah. Jika belakangan Anda kerap merasa keliru dalam berperilaku, self-blaming, dan sering meminta maaf, mungkin saja Anda telah menjadi korban gaslighting. Si pelaku tahu benar tentang kelemahan dan sensitivitas Anda, sehingga bisa memanfaatkannya untuk membuat Anda merasa rendah diri.

3. Siapa pelaku Gaslighting?

Cobalah merefleksi diri, jangan-jangan Anda punya kecenderungan memanipulasi orang lain. Semua orang bisa saja menjadi pelaku gaslighting. Tapi orang-orang dengan kepribadian narsistik-lah yang kemungkinan besar memiliki kecenderungan manipulatif. Mereka ini merasa dirinya adalah yang paling penting di atas semuanya. Mereka dekat dengan seseorang jika orang tersebut bermanfaat baginya. Jika tidak, mungkin si narsis tidak akan memedulikan mereka.

Selain itu, pembohong juga bisa memiliki kecenderungan gaslighting. Ini malah lebih berbahaya, sebab si pembohong dapat bersiasat yang membuat dirinya seakan tidak bersalah di mata korban. Kalau si korban gemar menyalahkan diri sendiri, bisa jadi keyakinannya akan berbalik dengan merasa bersalah akibat telah berprasangka negatif kepada pelaku. [Source]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *