Kisah Warni, Seorang Ibu dari 4 Anak dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)

Ibu Warni, ODGJ, gangguan jiwa, orang dengan gangguan jiwa, gangguan mental

Bagaimana rasanya hidup satu atap bersama orang dengan gangguan jiwa? Menanggapi pertanyaan itu, sepertinya kita perlu mencari jawabannya dari sosok Ibu Warni. Siapakah beliau?

Mendengar kisah hidup Ibu Warni cukup memilukan. Warga Dukuh Tegalan RT 01 RW 08, Desa Waru, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah tinggal bersama orang dengan gangguan jiwa. Jumlahnya bukan cuma satu, tetapi tiga orang sekaligus. Ibu Warni sendiri sebenarnya juga memiliki kecenderungan depresi, meski masih cukup bisa berkomunikasi.

Wanita berusia 65 tahun memiliki tujuh orang putra putri dari hasil pernikahan dengan mendiang suaminya. Dari ketujuh orang tersebut, satu di antaranya telah meninggal dunia, yaitu si bungsu Wawan. Sementara lima lainnya, hanya dua orang yang tidak memiliki masalah gangguan jiwa.

“Anak saya tujuh, yang lima gangguan jiwa. Yang anak kedua ikut suami, Agus bekerja, ada yang di rumah sakit jiwa, ini si Dewi malah cuma lari ke sana kemari, yang satunya cuma tiduran sejak bercerai,” ujar Warni.

Menurut kepala desa setempat, yang menimpa keluarga Ibu Warni merupakan gejala turunan. Mendiang suami Ibu Warni dikatakan memiliki riwayat depresi, demikian pula almarhum Wawan. Bahkan peristiwa meninggalnya Wawan cukup tragis, disinyalir mengakhiri hidupnya dengan terjun ke sumur di depan rumah.

Ibu Warni mengaku tak tahu menahu kejadian persisnya, lantaran waktu itu ia masih bekerja berjualan kain batik di Solo. Sepulang berjualan, dia sudah menemukan si bungsu mengambang di sumur.

Kini Ibu Warni hidup serumah dengan dua anaknya yang mengidap gangguan jiwa. Anak pertamanya, Sarini telah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Solo. Sarwanti, putri kedua hidup normal dan tinggal bersama sang suami di Kartasura.

Lalu putri ketiga, Sri Jarwanti sudah tidak diketahui lagi kemana rimbanya. Setelah sang ayah meninggal, Sri Jarwanti mulai mengalami gangguan jiwa. Sampai kemudian berpamitan pergi dari rumah untuk menjelajah dunia, tak mau dicari, karena akan pulang sendiri jika petualangannya sudah selesai.

Anak keempat dan ke-6, Tiwuk Rahayu dan Dewi-lah kini yang hidup dalam pengawasan Ibu Warni. Beliau sendiri sudah tidak lagi bekerja. Keluarga itu menggantungkan penghidupan sehari-harinya pada Agus, putra sulung yang cuma bekerja serabutan. Selain juga bantuan dari otoritas setempat, berupa KIS dan raskin. [Source]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *