Bagaimana Cara Hidup Tenang Tanpa Penyesalan Berlebihan?

penyesalan, trauma, psikologi, kepribadian, masa lalu, kebiasaan buruk

Masa lalu sudah usang. Tapi kenangannya masih tertanam sampai sekarang. Sebagian menyenangkan, sebagian lagi melahirkan penyesalan, inilah yang umumnya menyakitkan.

Apa Arti Menyesal?

Penyesalan atau menyesal adalah perasaan sedih. Umumnya terjadi akibat seseorang merasa dirinya telah keliru menentukan langkah, memilih, atau berbuat sesuatu pada suatu fase dalam hidupnya.

Dirinya mengira, kalau saja memilih jalan yang lain, barangkali hasilnya akan lebih baik dari sekarang. Tentu saja ini akan membuat seseorang merasa sedih, kecewa pada diri sendiri, frustrasi, hingga malu dan menutup diri.

Penyesalan akan lebih buruk jika berkaitan dengan keputusan-keputusan terbesar yang paling menentukan dalam hidup dan masa depan. Itu bisa terjadi di ranah apa saja, tidak melulu soal karir dan penghidupan.

Sebuah studi dari Mike Morrison dan Neal Roese (2011) dalam jurnal Social Psychological and Personality Science mengungkap lima ranah dalam kehidupan yang seringkali memicu penyesalan. Di antaranya hubungan asmara, keluarga, pendidikan, karir, keuangan, dan pengasuhan.

Penulis buku The Top Five Regrets of The Dying, Bronnie Ware malah merumuskan aspek-aspek penyesalan yang lebih personal. Menurut perempuan berkebangsaan Australia, sedikitnya ada lima hal yang seringkali disesalkan seseorang selama hidupnya, yaitu:

  • Takut jadi diri sendiri, di tengah lingkungan penuh aturan, baik kesepakatan moral, norma sosial, maupun aturan-aturan legal. Akibatnya terpaksa memendam keinginan, sehingga hidup serba terbebani.
  • Bekerja terlalu keras, sehingga tidak ada waktu untuk menyenangkan diri sendiri, berhubungan dengan orang lain, atau melakukan sesuatu yang lebih bernilai.
  • Kurang terbuka, sehingga orang lain pun ikut membatasi diri. Sikap terbuka dan jujur dapat membentuk persepsi orang lain. Mereka yang kompatibel akan mendekat, sementara yang menjauh berarti tidak.
  • Memutus komunikasi dengan teman, karena biasanya mereka ini adalah pengalih perhatian sekaligus obat stres mujarab. Putusnya komunikasi berarti kehilangan salah satu sumber kebahagiaan.
  • Membiarkan diri tidak bahagia, akibat terlalu memusingkan harapan dan pendapat orang lain. Atau terlalu sibuk memikirkan tujuan hidup, sembari melupakan proses meraihnya yang seharusnya dinikmati.

Dua Sisi Penyesalan

Selama ini kita sering mendengar nasihat, “Jangan lakukan hal itu kalau kamu tak ingin menyesal.” Perbuatannya bisa ini itu, apa saja, tetapi ujungnya adalah ancaman tentang penyesalan yang mungkin terjadi di kemudian hari.

Kalau untuk hal-hal, seperti mengonsumsi minuman keras, narkoba, vandalisme, bahkan kriminal, atau perbuatan merugikan lainnya, tampaknya nasihat itu memang tepat.

Tapi coba pikirkan. Pada kasus-kasus tertentu, nasihat tersebut malah membuat seseorang tidak berhasil mencapai mimpinya.

Sebagai contoh Anda kini sedang bekerja di sebuah perusahaan, berposisi cukup nyaman, dengan gaji lumayan. Suatu kali Anda memperoleh tawaran projek bernilai cukup besar di luar, yang menjanjikan peluang emas untuk jangka panjang. Di sisi lain, projek itu menuntut pengorbanan waktu yang membuat Anda terpaksa mundur dari tempat kerja sekarang. Alhasil, Anda pun menolaknya akibat takut mengambil risiko. Lalu menyesal karena sebenarnya Anda cuma butuh trik untuk bisa mengerjakan dua-duanya sekaligus.

Ini hampir mirip dengan yang disampaikan filsuf Lloyd Humberstone dalam “You’ll Regret It.” Artikel tersebut memuat ilustrasi kompleks tentang penyesalan seorang penjudi kelas teri yang bermain aman dengan bertaruh dua dollar. Apapun hasilnya, si penjudi itu tetap saja akan menyesal.

Pertama, dua dollar cukup untuk membeli salad. Jadi, kalah taruhan 2 dollar akan cukup merugikan, meski memang tidak akan membuatnya segera miskin.

Kedua, bertaruh dua dollar bisa membuatnya menang tiga hingga lima kali lipat. Jadi, harusnya dia memasang taruhan lebih banyak lagi.

Keduanya adalah bentuk penyesalan. Penyesalan-penyesalan kecil biasanya mudah terlupakan, seperti komentar bodoh di postingan orang lain atau berita hoaks yang Anda bagikan tanpa kroscek terlebih dulu. Tapi untuk keputusan-keputusan besar, umumnya penyesalan akan bertahan lama. Jadi penyesalan adalah sesuatu yang mustahil dihindari.

Meski demikian, pasti ada hal positif di balik penyesalan yang kita alami. Salah satunya, setidaknya kini kita tahu apa yang harus dilakukan jika tidak ingin menyesal lagi.

Hidup Tanpa Penyesalan Berlebihan

Kalau kita menyesal karena dulu terlalu takut mengutarakan keinginan, kini saatnya memupuk keberanian agar dampak yang sama tidak terulang lagi. Jikapun kini ketakutan itu masih menjadi-jadi, kita sudah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang bakal terjadi.

Dan cara-cara untuk hidup lebih tenang tanpa penyesalan berlebihan, bisa dilakukan dengan mengembangkan sikap-sikap berikut ini.

Menerima Kegagalan

Bukan cuma Anda, ada jutaan bahkan miliaran orang pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya. Tapi pastikan bahwa setidaknya Anda pernah berusaha mendapatkannya, meski hasilnya jauh dari harapan.

Seperti kata pepatah, “Selalu ada hikmah dari setiap kegagalan.” Anda bisa belajar dari kesalahan-kesalahan penyebab kegagalan itu, alih-alih menyesalinya. Lagipula, memikirkan kegagalan yang tanpa disertai sedikitpun usaha biasanya cenderung lebih menyakitkan.

Hidup untuk Diri Sendiri

Sebab penyesalan salah satunya akibat terlalu berkompromi dengan pihak di luar diri. Maka harapan dan cita-cita Anda sebenarnya bukan berasal dari keinginan diri yang murni, melainkan pengaruh dari luar. Pernah membayangkan hidup dengan kontrol penuh atas diri sendiri? Ini bisa Anda mulai sejak sekarang.

Tapi perlu diingat, manusia hanyalah makhluk yang hanya bisa membuat keputusan. Kontrol penuh Anda hanya atas diri sendiri, sedangkan Tuhan adalah Maha Penentu segala sesuatu. Jadi jangan sekali-kali menyesal ketika hidup tidak seperti yang Anda harapkan.

Jadilah Bermanfaat buat Orang Lain

Jangan samakan hidup untuk diri sendiri dengan sikap egois yang apatis. Egois dan apatis artinya sama sekali tak memedulikan orang lain, atau hanya memanfaatkan mereka demi keuntungan diri sendiri. Setiap individu berkumpul membentuk komunitas, sehingga Anda pun perlu memastikan peran Anda di tengah lingkungan.

Menjadi bermanfaat bisa sesimpel dengan cara memberi kesan baik, seperti mengucapkan terima kasih, meminta maaf, atau melayangkan pujian tulus. Bahkan berani dan jujur mengungkapkan pendapat atau pemikiran pun sudah cukup berarti. Dan jika sudah terbiasa, barulah Anda bisa mulai mengembangkan peran-peran lain yang mungkin lebih besar.

Tegaslah, Ya atau Tidak

Tinggi rendahnya cita-cita bergantung pada keras tidaknya Anda mau berusaha untuk mewujudkannya. Kalau sejak awal Anda malas, maka semua akan terasa berat. Jika sebaliknya Anda mau bekerja keras sambil menikmati proses, malah biasanya setinggi apapun keberhasilan akan terasa biasa saja.

Jadi, katakan ya atau tidak. Lakukan dengan sungguh-sungguh atau tinggalkan sama sekali, dan tegaslah pada keputusan itu. Pada umumnya, satu kemungkinan yang tertutup akan membuka kemungkinan lainnya.

Ingatlah, Hidup Belum Usai

Mungkin Anda menyesali banyak hal dalam hidup. Berbagai kegagalan membuat hidup Anda kini terasa tak menentu. Tapi coba pikirkan, apakah kegagalan itu secara otomatis mengakhiri hidup Anda?

Jika Anda bersikeras mengatakan iya, coba ingatlah kembali peristiwa kegagalan itu. Memangnya, sejak itu hidup Anda berhenti sama sekali? Waktu telah berjalan dan Anda lupa bagaimana Anda masih bisa tegak menjalani hidup hingga saat ini? Bahkan sebenarnya, Anda belum menemukan ujungnya. Ingatlah bahwa ini belum berakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *